UTM Perkuat Kader Sahabat Trunodjoyo untuk Wujudkan Kampus Aman dan Bebas Kekerasan
BANGKALAN – Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) terus memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kekerasan melalui kegiatan Training Kader Penggerak Satgas PPK Sahabat Trunodjoyo bertema “Menguatkan Kader, Menggerakkan Kepedulian: Bersama Mewujudkan Kampus Aman dan Bebas Kekerasan”. Kegiatan yang digelar pada 20 Oktober 2026 di Aula RKBD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UTM ini menjadi langkah strategis untuk membangun kepedulian bersama serta menyiapkan kader yang mampu menjadi sahabat sebaya di lingkungan kampus dan masyarakat sekitar.
Ketua Pelaksana, Siti Mutiatun, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini melibatkan delegasi dari setiap fakultas, masing-masing tiga orang, serta perwakilan organisasi mahasiswa tingkat universitas, asrama, dan pondok pesantren di sekitar UTM. Pelibatan berbagai unsur tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan edukasi dan membangun jaringan kader yang aktif dalam mencegah berbagai bentuk kekerasan.
Ketua Satgas PPK, Muhammad Soleh, mengapresiasi partisipasi panitia dan seluruh peserta. Ia berharap para delegasi fakultas dapat menjalankan peran sebagai sahabat sebaya sekaligus menjadi bagian dari proses kaderisasi Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT).
Menurutnya, pemilihan mahasiswa semester tiga dan lima merupakan bagian dari strategi kaderisasi berkelanjutan. Dengan demikian, upaya pencegahan kekerasan tidak hanya bergantung pada keberadaan Satgas, tetapi juga didukung oleh mahasiswa, organisasi kemahasiswaan, unit kegiatan mahasiswa (UKM), dan komunitas pendidikan lainnya.
“Pencegahan kekerasan merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya Satgas. Seluruh elemen masyarakat pendidikan perlu terlibat aktif, terutama dalam mencegah kekerasan seksual,” tegasnya.
Muhammad Soleh juga menyampaikan rencana untuk memperluas kolaborasi dengan pondok pesantren se-Madura. UTM, lanjutnya, siap memberikan dukungan kepada pondok pesantren yang belum memiliki satuan tugas pencegahan dan penanganan kekerasan agar upaya perlindungan dapat semakin luas dan terkoordinasi.
Sementara itu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama UTM, Surokim, mengajak para peserta memperkuat komitmen dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Ia secara khusus menyoroti pentingnya menghapus perundungan (bullying), termasuk tindakan yang dipicu oleh perbedaan suku dan latar belakang.
Menurut Surokim, kader sahabat sebaya memiliki posisi penting untuk membangun komunikasi, menumbuhkan kepedulian, dan mengantisipasi persoalan yang berpotensi berkembang menjadi konflik. Karena itu, setiap mahasiswa diharapkan mampu saling mendukung, menghargai perbedaan, serta berani mengambil peran dalam mencegah tindakan kekerasan.
Ia kemudian secara resmi membuka kegiatan Training Kader Penggerak Satgas PPK Sahabat Trunodjoyo. Melalui pelatihan ini, para kader diharapkan memiliki kesiapan dan pemahaman yang lebih baik dalam menghadapi berbagai persoalan kekerasan serta mampu menjadi penggerak kepedulian di lingkungan masing-masing.
Untuk memperkuat kapasitas peserta, kegiatan ini menghadirkan tiga materi utama yang berfokus pada pencegahan kekerasan, perlindungan korban, dan mekanisme pendampingan.
Materi pertama bertajuk “Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Berbasis Korban: Tantangan dan Mitigasinya” disampaikan oleh Ketua Savy Amira Women’s Crisis Centre (WCC). Materi ini memberikan perspektif mengenai pentingnya pendekatan yang berpusat pada korban dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan.
Materi kedua, “Perlindungan Saksi dan Korban”, disampaikan oleh Kepala Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Perwakilan Jawa Timur. Pembahasan ini memperkuat pemahaman peserta mengenai pentingnya perlindungan terhadap saksi dan korban dalam proses penanganan kasus kekerasan.
Selanjutnya, materi ketiga bertajuk “Strategi Pendampingan Korban di Tingkat Kepolisian” disampaikan oleh anggota Klinik Konsultasi dan Bantuan Hukum (KKBH) Fakultas Hukum UTM. Materi ini membekali peserta dengan pemahaman mengenai pendampingan korban ketika berhadapan dengan proses penanganan kasus di tingkat kepolisian.
Melalui rangkaian pembekalan tersebut, UTM berharap para kader Sahabat Trunojoyo tidak hanya memahami pentingnya pencegahan kekerasan, tetapi juga mampu membangun kepedulian, memberikan dukungan awal secara tepat, serta mengarahkan korban kepada pihak yang berwenang dan layanan pendampingan yang sesuai.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen UTM dalam membangun budaya kampus yang aman, menghormati keberagaman, dan menjunjung tinggi martabat setiap individu. Dengan keterlibatan aktif para kader, sivitas akademika, organisasi mahasiswa, dan masyarakat sekitar, upaya mewujudkan kampus yang aman dan bebas dari kekerasan diharapkan semakin kuat dan berkelanjutan.