UTM Perkuat Pengasuhan Anak Berbasis Kearifan Lokal Madura melalui FGD Etnoparenting
BANGKALAN – Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) melalui Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), menginisiasi penguatan pola pengasuhan anak berbasis kearifan lokal melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Ethno Parenting dalam Pengasuhan Anak Berbasis Kearifan Lokal Madura”, Selasa (27/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Syaikhona Muhammad Kholil, Gedung Graha Utama lantai 10 UTM ini melibatkan Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan, Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (SEAMEO CECCEP), sekolah mitra, akademisi, orang tua, alumni, serta mahasiswa PGPAUD.
FGD ini menjadi wadah untuk menggali potensi nilai-nilai budaya Madura sebagai bagian dari pendekatan pengasuhan anak usia dini yang relevan dengan perkembangan zaman. Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi bagi pengembangan program parenting dan kebijakan pendidikan anak usia dini di Kabupaten Bangkalan.
Koordinator Program Studi PGPAUD UTM, Fikri Nazarullail, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang untuk mempertemukan berbagai unsur pendidikan, mulai dari perguruan tinggi, pemerintah daerah, praktisi, hingga keluarga. Menurutnya, sinergi tersebut diperlukan agar pengasuhan berbasis kearifan lokal dapat dikembangkan menjadi model yang aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Ia berharap FGD tidak sekadar menjadi forum diskusi, tetapi juga menjadi langkah awal dalam merancang program pengasuhan yang berkelanjutan. Hasil pembahasan diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi satuan PAUD, program studi, dan pemangku kebijakan daerah.
Dekan FKIP UTM, Dr. Badrud Tamam, S.Si., M.Pd., menekankan pentingnya penguatan karakter anak sejak usia dini, terutama di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin dekat dengan kehidupan anak-anak.
Menurutnya, masa usia dini merupakan periode penting dalam pembentukan karakter dan penanaman nilai-nilai dasar. Dalam konteks tersebut, kearifan lokal dapat menjadi sumber pembelajaran yang memperkuat identitas, sikap, dan karakter anak.
Madura memiliki beragam nilai budaya yang dapat dikembangkan dalam praktik pengasuhan, seperti kerja keras, ketangguhan, semangat berjuang, serta dorongan untuk memiliki cita-cita tinggi. Nilai-nilai tersebut perlu dikaji secara mendalam agar dapat diterapkan dalam pendidikan anak tanpa kehilangan relevansinya dengan perkembangan masyarakat modern.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Alumni UTM, Surokim, S.Sos., S.H., M.Si., turut menyoroti pentingnya pendekatan pengasuhan yang mempertimbangkan konteks sosial dan budaya masyarakat. Ia menilai pengalaman serta kearifan lokal dapat memperkaya perspektif pengasuhan yang selama ini banyak merujuk pada teori dari masyarakat Barat.
Menurutnya, praktik pengasuhan di berbagai daerah memiliki karakteristik tersendiri yang perlu dipahami secara proporsional. Pengetahuan lokal dapat menjadi pelengkap dalam pengembangan teori dan praktik pendidikan, sekaligus membuka peluang penelitian yang lebih kontekstual.
Pemateri dari SEAMEO CECCEP, Asila Priyanggi Humaira Baain, S.S., menjelaskan bahwa etnoparenting merupakan pendekatan pengasuhan berbasis budaya yang melibatkan anak, orang tua, dan masyarakat dalam mendukung perkembangan fisik, psikologis, serta spiritual anak.
Ia menjelaskan bahwa pengasuhan tidak hanya berlangsung di lingkungan keluarga, tetapi juga menjadi sarana pewarisan nilai, pengetahuan, bahasa, dan tradisi antargenerasi. Karena itu, praktik pengasuhan masyarakat adat perlu dipahami berdasarkan latar belakang budaya masing-masing, bukan dinilai hanya menggunakan satu standar yang berlaku umum.
Asila juga menegaskan bahwa pemenuhan hak anak harus menjadi pusat dalam pengembangan ekosistem pengasuhan. Hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan, dan partisipasi perlu dijamin melalui keterlibatan keluarga, masyarakat, peneliti, serta pemerintah daerah.
Dalam hal ini, peneliti memiliki peran penting untuk mendokumentasikan pengalaman dan praktik pengasuhan masyarakat melalui pendekatan kualitatif. Hasil penelitian tersebut dapat menjadi dasar penyusunan rekomendasi kebijakan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan tetap menghormati nilai-nilai budaya setempat.
Sementara itu, pemateri kedua, Siti Huzaimah, M.Pd., memaparkan hasil pengembangan kajian praktik pengasuhan berbasis budaya pada 10 kelompok etnis di Indonesia. Kajian tersebut bertujuan memperkaya pemahaman tentang keberagaman cara masyarakat mendidik, membimbing, dan membesarkan anak.
Ia mengungkapkan sejumlah karakteristik pengasuhan berbasis budaya, antara lain pembagian tanggung jawab pengasuhan, pewarisan pengetahuan secara lisan, perhatian terhadap aspek sosial dan spiritual, pengembangan kepedulian terhadap lingkungan, serta pembentukan karakter sosial anak.
Salah satu contoh yang dibahas ialah kajian mengenai masyarakat adat Baduy di Banten. Kajian ini berupaya memahami praktik pengasuhan dan pendidikan anak usia dini di lingkungan keluarga adat, termasuk bagi anak yang tidak mengikuti pendidikan formal. Pendekatan tersebut penting agar pendidikan dalam masyarakat adat dapat dipahami secara menyeluruh dan tidak menimbulkan pelabelan negatif.
Melalui kegiatan ini, UTM mendorong terbentuknya ekosistem pengasuhan yang menghubungkan keluarga dan masyarakat, akademisi, serta pemerintah daerah. Keluarga dan masyarakat menjadi sumber pengetahuan sekaligus pelaku utama pengasuhan, peneliti bertugas mendokumentasikan dan mengembangkan bukti ilmiah, sedangkan pemerintah daerah berperan dalam merumuskan kebijakan serta layanan pendidikan.
Sinergi tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi kearifan lokal sebagai bagian penting dalam pengembangan pendidikan anak usia dini. Selain menjaga keberlanjutan budaya, pendekatan etnoparenting juga diharapkan mendukung pembentukan karakter dan pemenuhan hak anak secara lebih kontekstual.
UTM berharap FGD ini menjadi awal kolaborasi berkelanjutan dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan, SEAMEO CECCEP, dan sekolah mitra. Dengan mengintegrasikan pengetahuan akademik dan praktik budaya masyarakat, pengasuhan anak diharapkan semakin responsif terhadap kebutuhan generasi muda sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai luhur Madura.