UTM Kick Off Pendanaan YIA dan UTM VENTURE, Dorong Lahirnya Wirausaha Muda Mandiri
BANGKALAN – Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) terus memperkuat komitmennya dalam mencetak mahasiswa yang mandiri, kreatif, dan berjiwa wirausaha. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Kick Off Pendanaan dan Pendampingan Inkubasi Bisnis Mahasiswa dalam program Youthpreneur Impact Academy (YIA) dan UTM VENTURE yang diselenggarakan oleh UPA Pengembangan Karier dan Kewirausahaan (PKK) UTM, Jumat (6/11/2026), di Aula Syaichona Muhammad Cholil, Gedung Graha Utama Lantai 10.
Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya program pendampingan sekaligus penyaluran dukungan pendanaan bagi mahasiswa yang telah mengembangkan usaha. Acara tersebut juga dirangkaikan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara UPA PKK dan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) UTM serta penandatanganan kerja sama dengan masing-masing usaha mahasiswa penerima pendanaan.
Kepala UPA Pengembangan Karier dan Kewirausahaan UTM, Dr. Mardiyah Hayati, S.P., M.P., menyampaikan bahwa membangun usaha tidak cukup hanya bermodalkan ide atau produk. Seorang wirausahawan juga harus memiliki pengetahuan, keterampilan, serta keberanian dalam mengambil keputusan.
Menurutnya, mahasiswa yang mengikuti program inkubasi telah menunjukkan langkah awal yang positif dengan berani memulai dan mengembangkan usaha. Tercatat sebanyak 13 kelompok mahasiswa telah memiliki usaha, dengan lima kelompok di antaranya memperoleh dukungan pendanaan masing-masing sebesar Rp2 juta dari UPZ UTM.
Ia menyampaikan apresiasi kepada UPZ UTM atas dukungan dan kolaborasi yang telah terjalin. Bantuan pendanaan tersebut diharapkan menjadi bagian dari proses pengembangan usaha, bukan sekadar dukungan modal.
“Jangan memandang besar atau kecilnya bantuan yang diberikan. Ada hal yang tidak bisa dinilai dengan uang, yaitu pendampingan usaha itu sendiri. Kami juga memfasilitasi mahasiswa untuk mendapatkan ilmu dan keterampilan melalui kerja sama dengan KAJI Indonesia,” ungkapnya.
Mardiyah berharap, melalui program YIA dan UTM VENTURE, semakin banyak mahasiswa UTM yang tumbuh menjadi wirausahawan muda. Ke depan, UPA PKK juga berencana membangun komunitas wirausaha UTM sebagai ruang untuk saling berbagi pengalaman, memperkuat jejaring, dan mendukung keberlanjutan usaha mahasiswa.
Sementara itu, perwakilan UPZ UTM, Muttaqin Choiri, S.HI., M.HI., menjelaskan bahwa dukungan pendanaan kewirausahaan mahasiswa merupakan bagian dari pemanfaatan dana zakat secara produktif. Ia mengapresiasi kebijakan Rektor UTM yang menjadi landasan penguatan pengelolaan zakat di lingkungan universitas.
Ia mengungkapkan, pada semester gasal tahun akademik 2026/2027, UPZ UTM telah menyalurkan dana sekitar Rp160 juta hingga Rp170 juta untuk berbagai program. Di antaranya bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa sekitar Rp150 juta, pendanaan program UTM VENTURE sekitar Rp10 juta, serta dukungan terhadap sejumlah kegiatan sosial lainnya.
Menurutnya, penghimpunan zakat dari dosen dan tenaga kependidikan UTM saat ini mencapai sekitar Rp39 juta per bulan. Dari dana yang terkumpul, UPZ memiliki kewenangan mengelola sebesar 70 persen, sedangkan 30 persen lainnya disalurkan melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi.
“Harapan kami, pada tahun mendatang jumlah pendanaan dapat terus meningkat, baik untuk bantuan pendidikan mahasiswa maupun program-program lainnya. Salah satunya melalui zakat produktif untuk mendukung pengembangan usaha mahasiswa,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Alumni UTM, Surokim, S.Sos., S.h., M.Si. menegaskan pentingnya menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan generasi muda. Menurutnya, peningkatan jumlah wirausahawan muda menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong kemajuan bangsa.
Ia mengapresiasi mahasiswa yang memilih untuk membangun usaha sejak masih berada di bangku kuliah. Baginya, kewirausahaan tidak hanya berorientasi pada keuntungan pribadi, tetapi juga membuka kesempatan untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Mahasiswa yang memiliki pola pikir sebagai wirausahawan merupakan bagian dari generasi muda yang ikut menggerakkan bangsa menuju negara maju. Karena itu, saya mengapresiasi adik-adik yang sudah memilih kewirausahaan sebagai bagian dari masa depannya,” tuturnya.
Surokim juga mengingatkan bahwa perjalanan membangun usaha tidak selalu berjalan mulus. Proses jatuh bangun, menghadapi tantangan, hingga mengubah strategi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan seorang pengusaha.
Ia mencontohkan pengalaman seorang pengusaha yang harus melewati berbagai kegagalan sebelum akhirnya menemukan model bisnis yang berhasil. Karena itu, mahasiswa diharapkan tidak mudah menyerah dan terus belajar dari setiap proses yang dilalui.
Menurutnya, keberhasilan berwirausaha juga harus diukur dari dampak yang dihasilkan. Usaha yang berkembang diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan, serta memberikan kontribusi sosial bagi lingkungan sekitar.
“Jangan membayangkan menjadi pengusaha itu langsung menikmati kesuksesan. Ada proses jatuh bangun yang harus dilalui. Namun, ketika berhasil, seorang wirausahawan memiliki kesempatan lebih luas untuk memberikan manfaat bagi orang lain,” pesannya.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi Entrepreneurship Modern: From Campus to Business oleh Ari Wibowo, S.T., M.M. Dalam materinya, ia mengajak mahasiswa mengubah pola pikir dari sekadar pencari kerja menjadi pencipta peluang usaha.
Ia menekankan bahwa memulai bisnis sebaiknya tidak hanya berangkat dari keinginan menjual produk, tetapi dimulai dengan mengenali persoalan yang dihadapi masyarakat. Dari persoalan tersebut, mahasiswa dapat merancang solusi yang memiliki nilai ekonomi dan dibutuhkan oleh pasar.
“Jangan mulai dari produk, teman-teman. Mulailah dari masalah. Lihat kebutuhan orang-orang di sekitar, kemudian pikirkan solusi apa yang bisa kita tawarkan,” jelasnya.
Ari juga membekali mahasiswa dengan pemahaman mengenai pemetaan model bisnis, penentuan segmentasi pasar, perhitungan modal dan keuntungan, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pemasaran. Menurutnya, kemampuan beradaptasi dengan perubahan kebutuhan konsumen menjadi salah satu kunci keberlanjutan usaha.
Ia mendorong mahasiswa memanfaatkan berbagai platform digital, seperti WhatsApp Business, media sosial, serta teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memperkuat promosi, membangun identitas produk, dan memperluas jangkauan pasar.
Melalui program YIA dan UTM VENTURE, UTM berharap dukungan pendanaan yang disertai pendampingan berkelanjutan dapat melahirkan lebih banyak wirausahawan muda dari lingkungan kampus. Program ini sekaligus menjadi bagian dari upaya universitas memperkuat ekosistem kewirausahaan, mendorong kemandirian ekonomi mahasiswa, serta menghadirkan lulusan yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang kerja bagi masyarakat.