UTM Gelar Seminar Internasional TICLLE 2026, Dorong Inovasi Digital dan Pelestarian Budaya dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra
BANGKALAN – Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) terus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan pendidikan bahasa dan sastra di era digital. Melalui Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), UTM menyelenggarakan 1st Trunojoyo International Conference of Language and Literature Education (TICLLE) 2026 di Aula Syaikhona Muhammad Kholil, Graha Utama Lantai 10, Rabu (28/10/2026).
Mengusung tema “Digital Innovation, Adaptive, and Sustainable Education in Language and Literature Learning”, seminar internasional perdana ini menjadi ruang akademik untuk bertukar gagasan, memperluas jejaring kolaborasi, serta merumuskan pendekatan pembelajaran bahasa dan sastra yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya.
Ketua Pelaksana TICLLE 2026, Syekfani Alif Akbar, M.Hum., menyampaikan bahwa seminar ini diikuti oleh 43 pemakalah, terdiri atas 13 peserta yang hadir secara luring dan 30 peserta secara daring. Para pemakalah berasal dari berbagai institusi, baik dalam maupun luar negeri, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), perguruan tinggi di Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
Menurutnya, tingginya partisipasi tersebut menunjukkan besarnya perhatian akademisi terhadap perkembangan kajian bahasa, sastra, dan pendidikan di tengah transformasi digital. Ia berharap penyelenggaraan TICLLE dapat menjadi langkah awal bagi Program Studi PBSI UTM untuk memperluas kiprah akademik di tingkat internasional sekaligus membuka peluang kolaborasi penelitian yang berkelanjutan.
“Kami berharap seminar internasional pertama ini menjadi langkah awal bagi PBSI untuk semakin dikenal di tingkat global. Semoga kegiatan ini memberikan manfaat, memperkaya wawasan, serta mendorong lahirnya gagasan dan penelitian baru di bidang bahasa, sastra, dan pendidikan,” ujarnya.
Dekan FKIP UTM, Dr. Badrud Tamam, S.Si., M.Pd., mengapresiasi penyelenggaraan TICLLE 2026 sebagai langkah strategis dalam merespons perubahan lanskap pendidikan yang semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Menurutnya, generasi saat ini, khususnya Generasi Z dan Generasi Alpha, tumbuh dengan kedekatan yang tinggi terhadap teknologi. Kondisi tersebut menuntut pendidik untuk terus mengembangkan metode pembelajaran yang relevan, inovatif, dan mampu menjawab kebutuhan peserta didik.
Ia menegaskan bahwa teknologi digital dan kecerdasan buatan perlu dimanfaatkan sebagai sarana pendukung pembelajaran, bukan sebagai pengganti peran guru maupun dosen. Karena itu, inovasi dalam pendidikan bahasa dan sastra harus mampu mengintegrasikan kemajuan teknologi dengan pendekatan pedagogis yang tepat.
“Perkembangan teknologi harus kita manfaatkan sebagai pendukung proses pembelajaran. Namun, peran guru dan dosen tetap penting dalam membimbing peserta didik. Pembelajaran perlu terus beradaptasi dengan karakter generasi sekarang tanpa kehilangan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas kita,” ungkapnya.
Badrud Tamam juga menekankan pentingnya menjaga kekayaan bahasa dan budaya lokal di tengah munculnya berbagai bentuk komunikasi baru di kalangan generasi muda. Menurutnya, kemampuan beradaptasi dengan teknologi perlu berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal.
Ia berharap forum internasional tersebut dapat memantik lebih banyak penelitian, memperluas tema kajian kebahasaan dan kesastraan, serta mendorong peningkatan produktivitas karya ilmiah dosen dan mahasiswa. Hasil kajian yang dikembangkan diharapkan dapat menjadi referensi dalam penyusunan skripsi, tesis, maupun pengembangan inovasi pembelajaran.
TICLLE 2026 menghadirkan sejumlah akademisi dan peneliti sebagai pembicara utama dan pembicara undangan. Mereka adalah Dr. Fatmawati Adnan, M.Pd., dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Associate Professor Dr. Nor Hasimah Ismail dari Universiti Utara Malaysia; Assistant Professor Pensri Panich dari Walailak University, Thailand; serta Dr. Ira Fatimawati, S.S., M.Pd., dari UTM.
Dalam pemaparannya, Nor Hasimah Ismail mengangkat tema “Sastra dan Kebudayaan Nusantara: Persamaan dan Perbedaan Malaysia–Indonesia”. Pembahasan tersebut memberikan perspektif mengenai keterkaitan sastra dan kebudayaan kedua negara sekaligus membuka ruang dialog tentang kekayaan tradisi Nusantara.
Sementara itu, Pensri Panich membahas “Membaca Identitas dan Budaya Asia Tenggara”, yang menyoroti pentingnya memahami identitas budaya melalui perspektif sastra dan kajian kawasan. Adapun Ira Fatimawati memaparkan materi “Representasi Budaya Bhuppa’ Babbu’ Guru Rato dalam Penulisan Kreatif Sastra dengan Pendekatan Culturally Responsive Teaching”.
Materi tersebut mengangkat kearifan lokal Madura sebagai sumber inspirasi penulisan kreatif sekaligus menegaskan pentingnya pendekatan pembelajaran yang responsif terhadap latar belakang budaya peserta didik. Dengan demikian, nilai-nilai lokal dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan pembelajaran bahasa dan sastra yang kontekstual.
Diskusi seminar dimoderatori oleh Yoharwan Dwi Sudarto, M.Pd., yang memandu pertukaran gagasan dari para pembicara mengenai tantangan dan peluang pengembangan pendidikan bahasa dan sastra di tengah perubahan sosial, budaya, serta teknologi.
Melalui penyelenggaraan TICLLE 2026, Program Studi PBSI FKIP UTM berharap dapat memperkuat ekosistem akademik yang terbuka terhadap inovasi, memperluas kolaborasi lintas negara, dan mendorong lahirnya penelitian yang relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini.
Seminar ini sekaligus menegaskan bahwa transformasi digital dalam pembelajaran bahasa dan sastra tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan teknologi, tetapi juga pada penguatan identitas budaya, keberlanjutan pengetahuan, dan pembentukan generasi yang mampu berpikir kritis serta menghargai keberagaman.