UTM dan BRIN Perkuat Sinergi Riset Garam Madura untuk Dorong Hilirisasi Teknologi dan Kemandirian Industri Nasional
Bangkalan, 31 Juli 2026 – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menggelar Forum Strategis Penguatan Kolaborasi Riset dan Inovasi Garam bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jumat (31/7), di Ruang 502 Lantai 5 Gedung Rektorat UTM. Forum ini mengangkat tema “Membangun Sinergi Riset dan Inovasi Garam Madura Menuju Hilirisasi Teknologi dan Kemandirian Industri Garam Nasional.”
Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber utama dari BRIN, yakni Prof. Dr. Eng. Agus Haryono dan Edy Giri Rachman Putra, Ph.D., serta diikuti pimpinan universitas, dekan, peneliti, dosen, dan sivitas akademika UTM.
Dalam pemaparannya, Agus Haryono menjelaskan berbagai skema pendanaan, fasilitas riset, serta dukungan infrastruktur inovasi yang disediakan BRIN untuk memperkuat ekosistem penelitian di perguruan tinggi. Menurutnya, kolaborasi antarlembaga menjadi faktor penting dalam mempercepat lahirnya inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia industri.
Sementara itu, Edy Giri Rachman Putra memaparkan berbagai program sinergi BRIN dengan perguruan tinggi, khususnya melalui Program Mobilitas Talenta Riset dan Inovasi Nasional. Program tersebut diharapkan dapat memperluas kolaborasi peneliti, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta mempercepat pengembangan riset unggulan yang berdampak bagi pembangunan nasional.
Mewakili Rektor UTM, Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Dr. Achmad Amzeri menyampaikan apresiasi atas kehadiran jajaran deputi BRIN di UTM. Menurutnya, forum ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat kemitraan riset antara UTM dan BRIN, khususnya dalam pengembangan inovasi garam yang menjadi salah satu keunggulan daerah Madura.
Prof. Amzeri menjelaskan bahwa sejak tahun 2012 UTM telah memetakan berbagai potensi strategis Madura sebagai fokus penelitian, yang kemudian berkembang menjadi enam sektor prioritas, salah satunya sektor garam. Penelitian mengenai garam mulai difokuskan secara intensif sejak tahun 2015 dengan dukungan pendanaan internal universitas untuk membangun rekam jejak penelitian serta menghasilkan berbagai inovasi.
“Garam menjadi salah satu fokus utama karena Madura menyumbang sekitar 30 persen produksi garam nasional. Potensi ini harus terus dikembangkan, bukan hanya pada aspek budidaya (on farm), tetapi juga pada hilirisasi produk (off farm) sehingga mampu meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat dan industri,” ujar Prof. Amzeri.
Ia menambahkan, UTM telah menghasilkan berbagai inovasi pengolahan garam serta memiliki laboratorium riset lapangan di Kabupaten Pamekasan yang menjadi pusat pengembangan teknologi garam. Namun demikian, menurutnya, penguatan kolaborasi dengan BRIN sangat diperlukan agar hasil-hasil penelitian tersebut dapat berkembang menjadi inovasi yang siap dihilirisasikan.
Prof. Amzeri juga berharap UTM memperoleh dukungan melalui program-program strategis BRIN, baik dalam bentuk pendanaan maupun penugasan riset nasional. Menurutnya, kolaborasi tersebut akan mempercepat pengembangan inovasi garam sekaligus meningkatkan daya saing penelitian UTM di tingkat nasional.
“Kami berharap terbangun kolaborasi yang lebih kuat antara BRIN dan UTM. Riset garam yang telah kami bangun selama lebih dari satu dekade perlu diperkuat agar mampu menghasilkan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat serta mendukung kemandirian industri garam nasional,” ungkapnya.
Melalui forum strategis ini, UTM dan BRIN berkomitmen mempererat sinergi dalam pengembangan riset garam berbasis potensi lokal Madura. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendorong lahirnya inovasi yang tidak hanya meningkatkan produktivitas dan kualitas garam nasional, tetapi juga mempercepat hilirisasi teknologi serta memperkuat kemandirian industri garam Indonesia.