Tingkatkan Mutu dan Tata Kelola Kampus, IAI Syaichona Moh Cholil Bangkalan Studi Banding ke UTM
Bangkalan, 19 Agustus 2026 — Institut Agama Islam (IAI) Syaichona Moh Cholil Bangkalan melakukan kunjungan studi banding ke Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) untuk memperkuat tata kelola perguruan tinggi, sistem penjaminan mutu, serta pengembangan program studi (prodi) baru di lingkungan Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek).
Rombongan IAI Syaichona Moh Cholil dipimpin langsung oleh Rektor Dr. Fera Andriani Djakfar, Lc., M.Pd.I., bersama jajaran rektorat dan pimpinan Lembaga Penjaminan Mutu (LPM). Kehadiran rombongan disambut Rektor UTM Prof. Dr. Safi., S.H., M.H., beserta jajaran pimpinan, mulai dari Wakil Rektor Bidang Akademik, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan dan Umum, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama dan Alumni, serta jajaran terkait.
Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antarkedua perguruan tinggi di Madura. Pembahasan tidak hanya berfokus pada pengembangan kelembagaan, tetapi juga mencakup peningkatan mutu akademik, penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, pengembangan prodi, digitalisasi tata kelola, serta perluasan kerja sama kelembagaan.
Rektor IAI Syaichona Moh Cholil Dr. Fera Andriani Djakfar menyampaikan bahwa kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut dari kerja sama yang sebelumnya telah disepakati melalui Memorandum of Understanding (MoU).
“Secara resmi kita pernah menandatangani MoU tahun lalu waktu kami dilantik. Bagi kami masalah ini sangat besar, mohon arahan dalam berbagai hal, terutama dalam pengembangan kelembagaan,” ungkapnya.
Ia berharap pengalaman dan praktik tata kelola yang diterapkan UTM dapat menjadi referensi bagi IAI Syaichona Moh Cholil dalam mengembangkan institusi, khususnya menghadapi berbagai tantangan pengelolaan perguruan tinggi swasta.
Merespons kunjungan tersebut, Rektor UTM Prof. Dr. Safi., S.H., M.H., menegaskan pentingnya membangun sinergi antarlembaga pendidikan tinggi di Madura. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab bersama untuk menunjukkan bahwa institusi pendidikan tinggi di Madura mampu bersaing dengan perguruan tinggi di daerah lain.
“Makanya kami selaku entitas pendidikan tinggi tentu punya tanggung jawab untuk ikut menyelesaikan problem stigma negatif tentang Madura itu dengan menunjukkan bahwa stigma itu tidak benar,” tegasnya.
Menurut Rektor, salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menunjukkan kualitas perguruan tinggi adalah capaian akreditasi dan rekognisi institusi maupun program studi. Karena itu, penguatan sistem penjaminan mutu menjadi bagian penting dalam membangun reputasi perguruan tinggi.
“Buktinya apa? Ya kita tunjukkan bahwa perguruan tinggi yang ada di Madura itu adalah perguruan tinggi yang tidak kalah berkualitas dengan perguruan tinggi yang ada di luar Madura. Tentu yang paling gampang itu melalui rekognisi, melalui akreditasi,” lanjutnya.
Salah satu agenda utama dalam studi banding tersebut adalah pembahasan strategi pembukaan program studi baru. IAI Syaichona Moh Cholil yang selama ini memiliki basis keilmuan keagamaan ingin mengembangkan bidang keilmuan umum sesuai kebutuhan masyarakat dan perkembangan dunia kerja.
Dalam diskusi, UTM memberikan gambaran mengenai peluang pengembangan rumpun keilmuan. Institut memiliki ruang untuk mengembangkan keilmuan di luar rumpun keagamaan dengan tetap memperhatikan ketentuan dan regulasi yang berlaku.
Sejumlah bidang yang dinilai memiliki prospek dan peminat cukup besar antara lain Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Manajemen, Teknik Informatika, dan Ilmu Komunikasi. Pengembangan prodi tersebut diharapkan dilakukan melalui kajian kebutuhan, kesiapan sumber daya manusia, sarana prasarana, kurikulum, serta pemenuhan standar akreditasi.
Selain pengembangan prodi, kedua institusi juga membahas penerapan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE). Pendekatan tersebut menekankan pencapaian kompetensi dan capaian pembelajaran lulusan sebagai dasar penyusunan serta evaluasi kurikulum.
UTM membagikan pengalaman dalam mempersiapkan implementasi OBE sebagai bagian dari penguatan mutu akademik. Struktur kurikulum, capaian pembelajaran, metode pembelajaran, hingga evaluasi perlu disusun secara terintegrasi agar selaras dengan standar mutu dan kebutuhan dunia kerja.
UTM juga menekankan pentingnya penataan kurikulum secara matang sebelum perguruan tinggi mengajukan proses akreditasi. Dengan demikian, dokumen akademik tidak hanya memenuhi persyaratan administratif, tetapi benar-benar mencerminkan proses pembelajaran dan capaian lulusan.
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah digitalisasi sistem penjaminan mutu dan tata kelola perguruan tinggi. UTM mendorong pemanfaatan teknologi informasi untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan data akademik maupun kelembagaan.
Dalam diskusi, UTM juga membagikan pengalaman dalam melibatkan sumber daya internal, termasuk mahasiswa melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), dalam pengembangan berbagai sistem dan layanan berbasis teknologi.
Model tersebut dinilai dapat menjadi alternatif untuk mengembangkan sistem digital secara lebih efisien sekaligus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman praktis.
Kunjungan studi banding kemudian ditutup dengan komitmen kedua institusi untuk memperkuat kerja sama teknis. UTM menyatakan kesiapan untuk berbagi pengalaman dan memberikan pendampingan kepada IAI Syaichona Moh Cholil dalam pengembangan kelembagaan, penjaminan mutu, pengembangan prodi, hingga peningkatan kualitas akademik.
Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi di Madura yang semakin berkualitas, adaptif, dan berdaya saing, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat.