QUO VADIS TRANSFORMASI UTM: SINERGI STRATEGIS MENUJU KAMPUS BERDAMPAK DAN BERDAYA SAING INTERNASIONAL
SURABAYA – Lanskap pendidikan tinggi di Indonesia kini tengah berada di persimpangan krusial. Tuntutan akan relevansi, inovasi, serta tata kelola yang tangkas memaksa perguruan tinggi untuk keluar dari zona nyaman. Menjawab tantangan global tersebut, Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengambil langkah berani melalui penyelenggaraan Rapat Kerja (Raker) 2027 yang berlangsung pada 22–24 Oktober 2026.
Mengusung tema besar “Quo Vadis Transformasi UTM: Memperkuat Sinergi, Mewujudkan Kampus Berdampak, dan Meningkatkan Daya Saing Internasional”, perhelatan ini bukan sekadar agenda rutin tahunan. Ini adalah momentum strategis sekaligus titik tolak bagi UTM untuk membedah arah kebijakan institusi, mengakselerasi lompatan reputasi global, tanpa sedikit pun mencerabut akar kearifan lokal Madura yang menjadi identitasnya.
Rektor Universitas Trunojoyo Madura, Prof. Dr. Safi., S.H., M.H., dalam sambutan pembukaannya memberikan penegasan tajam bahwa fondasi utama dari keberhasilan sebuah perguruan tinggi terletak pada harmoni struktural.
“Penyelarasan arah kebijakan antara rektorat, fakultas, hingga unit-unit kerja adalah kunci absolut keberhasilan transformasi. Raker ini adalah ruang konsolidasi draf Rencana Strategis (Renstra) dari seluruh elemen kampus,” tegas Prof. Safi. UTM memantapkan komitmennya untuk membangun tata kelola yang transparan, akuntabel, dan berdaya saing internasional demi menghadirkan manfaat nyata bagi kemajuan Madura dan Indonesia.
Fokus utama dari Transformasi UTM saat ini adalah penguatan fleksibilitas pengelolaan paska peralihan status menjadi Badan Layanan Umum (BLU). Di tengah persaingan ketat, tata kelola tidak bisa lagi dijalankan dengan gaya konvensional.
Direktur Kelembagaan Ditjen Dikti Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Prof. Dr. Mukhamad Najib, S.TP., M.M., yang hadir memberikan pandangan strategis, mengungkapkan data yang cukup mengejutkan. Dari sekitar 4.616 perguruan tinggi di Indonesia, baru sekitar 6 persen yang berhasil menyandang akreditasi Unggul.
“Tata kelola perguruan tinggi tidak boleh sekadar menjadi kepatuhan administratif formal belaka, melainkan harus berfungsi progresif sebagai mesin pencipta nilai publik,” papar Prof. Najib dalam sesi diskusi panel.
Menurutnya, PTN BLU memiliki posisi yang sangat strategis. Fleksibilitas pengelolaan yang diberikan negara harus dijadikan jembatan kokoh menuju kemandirian lembaga. “Fokus dasarnya terletak pada efisiensi, akuntabilitas, serta integrasi data melalui digitalisasi secara masif guna mendukung pengambilan keputusan yang bersifat real-time,” tambahnya.
Transformasi UTM menjadi PTN BLU memang memberikan keleluasaan, namun hal ini berjalan beriringan dengan tanggung jawab pengelolaan finansial yang ketat. Pada sesi Sharing and Hearing Dewan Pengawas (Dewas), Trimo Yulianto, S.Sos., M.T. dan Nur Syarifah, S.H., LL.M. membedah strategi penguatan tata kelola dan kinerja keuangan.
Dewas menyoroti dinamika perekonomian nasional saat ini yang berimbas langsung pada kebijakan anggaran pendidikan. Saat ini, pemerintah tengah melakukan pengereman belanja guna memastikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak menembus batas maksimal 3 persen, sesuai dengan amanat undang-undang.
Imbasnya, UTM dihadapkan pada gelombang efisiensi di akhir tahun. “Kebijakan efisiensi ini di antaranya adalah pemangkasan anggaran perjalanan dinas sebesar 30 persen, serta penundaan pengadaan kendaraan dinas atau belanja lain yang dinilai tidak mendesak,” urai perwakilan Dewas.
Namun demikian, kebijakan pendapatan kampus—termasuk penyesuaian Uang Kuliah Tunggal (UKT)—tidak dapat dilakukan secara serta-merta. UTM dituntut merumuskan strategi optimalisasi aset dan surplus kas secara produktif, seperti penempatan deposito yang aman, tanpa membebani mahasiswa sebagai pemangku kepentingan utama. Keberhasilan menjaga likuiditas finansial ini menjadi penentu keberlanjutan layanan operasional dan investasi jangka panjang UTM.
Sebuah kampus tidak akan menjadi hebat hanya karena gedung yang megah, melainkan karena keunggulan sumber daya manusianya. Arah kebijakan pengembangan SDM menuju PTN berstandar internasional dibedah secara komprehensif oleh Prof. Tjitjik Sri Tjahjandarie, Ph.D., Staf Khusus Menteri Bidang Pemerintahan dan Akuntabilitas Kemendiktisaintek.
Dalam paparannya, Prof. Tjitjik menegaskan bahwa kompetensi, integritas, dan profesionalisme tenaga kependidikan (tendik) maupun dosen adalah pilar yang tak tergantikan. Kementerian saat ini telah menggeser paradigma pengembangan SDM. Jika dulu hanya bertumpu pada kualifikasi akademik semata, kini seluruh kebijakan bermuara pada satu indikator: Dampak dan Kontribusi.
Secara demografis, Indonesia menghadapi tantangan regenerasi dengan persentase Guru Besar yang hanya menyentuh angka 3,8 persen secara nasional. Di sisi lain, peta demografi UTM menunjukkan potensi pertumbuhan yang sangat besar. Saat ini, dosen UTM didominasi oleh jabatan fungsional Lektor (54%), diikuti Lektor Kepala (20%), Asisten Ahli (20%), Guru Besar (4%), dan Tenaga Pengajar (2%).
“Peta ini mengindikasikan perlunya akselerasi strategis agar kelompok Lektor dapat segera melompat menuju Lektor Kepala dan Guru Besar. Hal ini krusial untuk memperkuat bobot akademik institusi di mata dunia,” jelas Prof. Tjitjik.
Sebagai pedoman akselerasi, pemerintah telah menerbitkan Permendiktisaintek No. 52 Tahun 2025 tentang Profesi, Karier, dan Penghasilan Dosen, serta Kepmen No. 39 Tahun 2026. Hadirnya instrumen “Angka Kredit (AK) Prestasi” memungkinkan skema “Lompat JAD”. Dosen berprestasi kini dapat meraih gelar Profesor hanya dalam rentang waktu 10 tahun, memangkas jalur normal yang membutuhkan waktu hingga 21 tahun.
Prof. Tjitjik merangkum visi transformasi SDM ini ke dalam empat pilar kesimpulan: Adaptasi (penyesuaian layanan karier dosen dengan regulasi baru), Profesionalisme (uji kompetensi sebagai penjamin mutu), Produktivitas (stimulus karya ilmiah melalui AK Prestasi), dan Dampak (mewujudkan ekosistem pendidikan yang berkelas dunia).
Transformasi UTM tidak hanya bergerak ke dalam, tetapi juga berekspansi keluar menyentuh masyarakat luas. Mutu perguruan tinggi kini tidak lagi dinilai sekadar dari kelengkapan laporan Tridharma atau tumpukan jurnal di perpustakaan.
Direktur SDM MTPO Universitas Airlangga, Prof. Dr. Radian Salman, S.H., LL.M., menguraikan bahwa tolok ukur kampus masa kini telah bergeser drastis. “Keberhasilan kampus diukur dari sejauh mana hilirisasi riset dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat dan industri,” paparnya.
Senada dengan hal tersebut, pada panel strategi penguatan riset, Dirjen Riset dan Pengembangan (Risbang) Kemendiktisaintek, Dr. Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., Ph.D., menyoroti urgensi komersialisasi hasil penelitian. Inovasi perguruan tinggi harus berangkat dari “problem-solving” (penyelesaian masalah) di masyarakat, bukan sekadar ego akademik.
Dr. Fauzan juga secara spesifik mendorong pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan teknologi open source. “AI memiliki potensi luar biasa untuk mendukung berbagai penyelesaian masalah lintas disiplin, mulai dari kesehatan, teknologi, hingga pertanian yang menjadi salah satu kekuatan Trunojoyo Madura. Program inovasi UTM harus dirancang agar scalable dan dapat dikembangkan secara luas,” tegasnya.
Kerangka kerja hilirisasi ini sangat selaras dengan target Rencana Strategis (Renstra) UTM 2025–2029 yang secara ambisius membidik pemeringkatan QS World University Rankings (QS-WUR). Untuk mencapainya, UTM menggenjot percepatan studi lanjut doktoral, memberikan insentif publikasi berbasis kinerja, serta mengotomasi layanan administratif agar dosen dapat fokus pada penelitian yang berdampak.
Gagasan besar dari perhelatan Raker 2027 ini tidak dibiarkan menguap menjadi sebatas wacana. Transformasi UTM diwujudkan ke dalam bentuk komitmen tindak lanjut (Rencana Aksi) yang terukur dan mengikat bagi seluruh sivitas academika:
1. Komersialisasi Invensi: Mengidentifikasi secara masif hasil riset dan invensi internal kampus yang memiliki potensi komersial tinggi untuk segera dihilirisasi.
2. Kemitraan Industri: Memperkuat penjajakan dan kerja sama strategis dengan pihak industri (link and match).
3. Integrasi Teknologi AI: Mengkaji dan mengadopsi pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) serta teknologi open source yang relevan untuk menopang percepatan inovasi kampus.
4. Desain Program Berbasis Solusi: Merancang program-program pengabdian dan penelitian yang secara langsung berorientasi pada penyelesaian masalah nyata di masyarakat Madura dan tingkat nasional.
Langkah progresif ini menandakan era baru bagi Universitas Trunojoyo Madura. Perubahan status menjadi PTN BLU bukan sekadar pergantian label, melainkan evolusi fundamental dalam tata kelola institusi. Melalui kolaborasi lintas sektoral, budaya kerja yang adaptif, dan kepatuhan pada visi Kemendiktisaintek, Transformasi UTM kini berada di jalur yang tepat.
Kampus ini tengah membuktikan bahwa kearifan lokal Madura dan standar kualitas global bukanlah dua hal yang saling bertolak belakang, melainkan kekuatan sinergis untuk mewujudkan kampus yang benar-benar berdampak bagi peradaban.