BPU dan Teaching Industry LPPM Universitas Trunodjoyo Madura Inisiasi Pelatihan Ekspor, Dua Tim Mahasiswa Siapkan Essential Oil dan Briket Kelapa Menuju Pasar Global
Bangkalan, 11 Agustus 2026 — Badan Pengelola Usaha (BPU) dan Teaching Industry LPPM Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) terus memperkuat perannya sebagai penggerak pengembangan kewirausahaan berbasis riset dan inovasi melalui penyelenggaraan Program Pelatihan dan Inkubasi Ekspor bagi mahasiswa. Program ini dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kompetensi praktis dalam menembus pasar internasional, mulai dari pemahaman fundamental ekspor hingga simulasi transaksi dan pencarian buyer luar negeri.
Pelatihan ini melibatkan dua kelompok mahasiswa yang mengembangkan produk unggulan hasil riset dan inovasi Teaching Industry LPPM berbasis potensi lokal, yaitu tim Garuda Ekspor yang memproduksi minyak atsiri (essential oil) dari bahan alami, serta tim Nusantara Ekspor yang mengembangkan produk briket arang tempurung kelapa (coconut shell charcoal briquettes). Kedua kelompok merupakan bagian dari pengembangan produk di lingkungan Teaching Industry Universitas Trunojoyo Madura, sehingga proses pembelajaran tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga diarahkan pada praktik bisnis dan kesiapan ekspor.
Bapak Faidal selaku Direktur Badan Pengelola Usaha Universitas Trunodjoyo Madura menyampaikan bahwa program ini merupakan langkah strategis untuk menciptakan ekosistem kewirausahaan kampus yang mampu menghasilkan eksportir muda. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami bahwa produk lokal memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar global apabila dipersiapkan dengan standar yang tepat.
“Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya belajar tentang ekspor, tetapi juga mempraktikkan secara langsung bagaimana membangun perusahaan, menyusun strategi pasar internasional, menghitung harga ekspor, hingga melakukan komunikasi dengan calon pembeli di luar negeri,” ujarnya.
Bapak Moh.Reza Adiyanto selaku Wakil Direktur Pemasaran Produk BPU mengatakan bahwa
Program inkubasi ekspor dilaksanakan melalui beberapa tahapan intensif dengan pendampingan dari mentor ekspor.id selaku komunitas edukasi, pelatihan dan akselerasi ekspor bagi pelaku usaha di Indonesia serta dukungan dari Uruzin Solusi Bisnis selaku perusahaan konsultan perizinan usaha yang membantu mendirikan badan usaha PT. Arsyira Aroma Creatif yang menaungi tim Garuda Ekspor dan PT. Sumber Energi Indonesia yang menaungi tim Nusantara Ekspor.
Materi yang diberikan mencakup HS Code, Incoterms 2020, dokumen ekspor, payment terms, simulasi harga EXW–FOB–CIF, strategi riset pasar, identifikasi buyer internasional, penyusunan company profile dan katalog produk, serta pengelolaan CRM (Customer Relationship Management). Setiap tim juga diwajibkan menyusun action plan ekspor dan melakukan presentasi akhir sebagai bentuk evaluasi kesiapan memasuki pasar global.
Pada pelatihan tersebut, tim Garuda Ekspor memperkenalkan berbagai produk minyak atsiri seperti Lemongrass, Patchouli, dan Green Tea Essential Oil. Produk-produk tersebut diposisikan sebagai bahan baku aromaterapi, parfum, kosmetik, serta produk perawatan pribadi dengan pendekatan produksi yang berkelanjutan. Tim ini juga menyusun company profile berbahasa Inggris, katalog produk, serta simulasi ekspor menggunakan standar perdagangan internasional.
Sementara itu, tim Nusantara Ekspor mengembangkan coconut shell charcoal briquettes sebagai komoditas energi ramah lingkungan dengan target pasar ekspor seperti Belanda, Amerika Serikat, dan Australia. Mahasiswa menyusun spesifikasi teknis produk, persyaratan ekspor, dokumen pendukung, hingga draft korespondensi bisnis dengan calon buyer internasional sebagai bagian dari simulasi perdagangan ekspor.
Salah satu aspek yang menjadi fokus utama dalam pelatihan adalah pembagian tugas profesional di dalam tim. Setiap kelompok terdiri atas tiga anggota yang bertanggung jawab pada bidang HS Code dan simulasi harga, riset pasar dan pencarian buyer, serta company profile, katalog, dan website promosi. Pendekatan ini memberikan pengalaman nyata mengenai bagaimana sebuah perusahaan ekspor bekerja secara kolaboratif.
Selama dua minggu pendampingan, kedua tim berhasil menyelesaikan berbagai output penting, termasuk penentuan negara tujuan ekspor, identifikasi minimal sepuluh calon buyer internasional, penyusunan company profile, katalog produk, simulasi harga ekspor FOB dan CIF, serta penyusunan strategi komunikasi bisnis dengan calon importir.
BPU UTM berharap program ini menjadi awal dari terbentuknya Export Youthpreneur di lingkungan Universitas Trunojoyo Madura. Dengan mengintegrasikan pembelajaran akademik, teaching industry, dan pendampingan bisnis, universitas menargetkan lahirnya mahasiswa yang tidak hanya mampu menciptakan produk inovatif, tetapi juga memiliki kapasitas untuk memperluas pasar hingga tingkat internasional.
Menurut Kepala LPPM UTM Iskandar Dzulkarnain, Program Pelatihan dan Inkubasi Ekspor ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, unit usaha universitas, hasil riset dan inovasi Teaching Industry LPPM UTM serta praktisi ekspor mampu menghadirkan model pembelajaran yang aplikatif dan berdampak nyata.
Melalui inisiatif BPU dan Teaching Industry LPPM, produk essential oil dan briket arang tempurung kelapa kini tidak lagi dipandang sebagai produk lokal semata, melainkan sebagai komoditas yang sedang dipersiapkan untuk bersaing di pasar global.