Seputar UTM

UPA Bimbingan dan Konseling UTM Gelar Workshop Konseling Dasar untuk Dosen, Tendik, dan Tenaga Layanan Kesehatan

Bangkalan, 28 April 2026 — Unit Penunjang Akademik (UPA) Bimbingan dan Konseling Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) menyelenggarakan kegiatan Workshop Peningkatan Kemampuan Konseling Dasar bagi Dosen di Lingkungan Universitas Trunojoyo Madura pada Selasa (28/4/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula Syaikhona Muhammad Kholil, Lantai 10 Gedung Utama UTM ini diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, tenaga layanan kesehatan, serta beberapa guru Bimbingan dan Konseling (BK) Sekolah Menengah Atas di wilayah Bangkalan sebagai upaya memperkuat dukungan psikologis bagi mahasiswa.

Workshop bertajuk “Konseling Dasar bagi Dosen, Tenaga Pendidik, dan Tenaga Layanan Kesehatan” ini menjadi langkah strategis kampus dalam merespons semakin kompleksnya tantangan akademik dan kesehatan mental mahasiswa. Dalam kehidupan kampus, mahasiswa sering kali menjadikan dosen maupun tenaga kependidikan sebagai tempat pertama untuk bercerita ketika menghadapi persoalan pribadi, akademik, maupun psikologis.

Melalui kegiatan ini, UTM berupaya membekali para pendidik dan tenaga layanan kampus dengan kemampuan dasar untuk mendengar secara empatik, merespons secara tepat, serta menjadi pendamping yang suportif bagi mahasiswa.

Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Alumni UTM, Surokim, S.Sos., S.H., M.Si. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada UPA Bimbingan dan Konseling beserta seluruh panitia yang telah menyiapkan kegiatan tersebut.

Ia menegaskan bahwa kesehatan mahasiswa tidak hanya diukur dari kondisi fisik, tetapi juga kesehatan mental yang memiliki peran sangat penting dalam keberhasilan studi maupun kehidupan sosial mereka.

“Kesehatan itu tidak hanya fisik, tetapi juga kesehatan mental, dan itu penting untuk diperhatikan,” ujarnya.

Surokim juga berharap UPA Bimbingan dan Konseling dapat menjadi wadah yang benar-benar hadir untuk membantu mahasiswa yang sedang menghadapi persoalan hidup dan membutuhkan ruang aman untuk didengarkan.

“Saya mohon bantuan kepada UPA Konseling agar menjadi wadah untuk menyelamatkan jiwa-jiwa generasi muda yang butuh untuk didengarkan,” tegasnya.

Menurutnya, keberadaan workshop ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan kampus yang lebih sehat, suportif, dan membahagiakan bagi mahasiswa maupun siswa secara umum.

Sementara itu, Kepala UPA Bimbingan dan Konseling UTM, Hera Wahyuni, dalam sambutannya memaparkan kondisi kesehatan mental mahasiswa yang saat ini cukup mengkhawatirkan. Ia menyampaikan bahwa berbagai persoalan psikologis di kalangan mahasiswa perlu mendapat perhatian serius dari seluruh elemen kampus.

Data yang dimiliki menunjukkan tingginya angka perilaku menyakiti diri sendiri (self-harm), percobaan bunuh diri, hingga kekerasan dalam hubungan asmara yang dialami oleh para pelajar dan mahasiswa.

Menurut Hera, banyak dari masalah tersebut berakar dari kerentanan psikologis yang sebenarnya telah muncul sejak masa sekolah. Faktor pola asuh orang tua, lingkungan sosial, serta pengalaman hidup menjadi pemicu yang terus terbawa hingga memasuki dunia perguruan tinggi.

Ia menjelaskan bahwa persoalan yang paling sering muncul di kalangan mahasiswa meliputi rendahnya rasa percaya diri, kebiasaan overthinking, rasa insecure, kurangnya motivasi belajar, hingga tekanan ekonomi dan kesulitan biaya hidup.

“Banyak mahasiswa datang dengan luka yang tidak terlihat. Mereka membutuhkan ruang aman untuk didengar tanpa dihakimi,” jelasnya.

Sebagai bentuk solusi nyata, UPA Bimbingan dan Konseling UTM terus memperkuat layanan pendampingan dan program konseling bagi mahasiswa agar mereka dapat menata kehidupan secara lebih sehat dan terarah.

“Konseling hadir memberi makna agar hidup lebih tertata dan maju,” ungkap Hera.

Workshop ini menghadirkan narasumber utama Dr. Yuliati Hotifah, S.Psi., M.Pd., dosen Bimbingan dan Konseling sekaligus Tim Satgas PPKPT Universitas Negeri Malang. Dalam pemaparannya, ia memberikan penguatan mengenai teknik dasar konseling, keterampilan mendengar aktif, komunikasi empatik, serta cara mengenali tanda-tanda awal gangguan psikologis pada mahasiswa.

Kegiatan dipandu oleh moderator Siti Eneng Sururiyatul Mu’aziyah, S.P., M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan IPA UTM, yang mengarahkan jalannya diskusi secara interaktif dan aplikatif.

Peserta workshop terlihat antusias mengikuti setiap sesi, terutama saat membahas studi kasus nyata yang sering ditemui dalam interaksi sehari-hari antara dosen dan mahasiswa. Banyak peserta menyadari bahwa peran sederhana seperti mendengarkan dengan sungguh-sungguh dapat menjadi langkah awal yang sangat berarti dalam membantu mahasiswa menghadapi persoalan hidupnya.

Melalui workshop ini, UTM ingin membangun budaya kampus yang lebih peduli terhadap kesehatan mental dan memperkuat ekosistem pendidikan yang humanis.

Sejalan dengan pesan yang diangkat dalam kegiatan ini, “Mendengarkan bukan sekadar menunggu giliran berbicara, melainkan memberi ruang bagi orang lain untuk merasa aman dan dipahami.”

Dengan semangat tersebut, Universitas Trunojoyo Madura terus berkomitmen menghadirkan lingkungan akademik yang tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga sehat secara emosional, suportif, dan berpihak pada kesejahteraan mental seluruh civitas akademika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *