Seputar UTM

UTM Gandeng Komnas Perempuan Gelar Kuliah Umum “Sosialisasi Stop Kekerasan di Lingkungan Kampus”

Bangkalan, 10 Oktober 2025 — Universitas Trunojoyo Madura (UTM) terus menunjukkan komitmennya sebagai kampus yang aman, beradab, dan bebas dari kekerasan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Kuliah Umum bersama Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) dengan tema “Sosialisasi Stop Kekerasan di Lingkungan Kampus”, yang berlangsung di Aula Syaichona Muhammad Kholil, Gedung Rektorat Lantai 10, pada Jumat (10/10).

Acara strategis ini menghadirkan Dr. Maria Ulfa Anshor, M.Si., Ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, sebagai narasumber utama. Turut hadir pula RektorUniversitasTrunojoyoMadura, Prof. Dr. Safi’, S.H., M.H., jajaran rektorium dan dekanat, serta Ketua Dewan Pembangunan Madura, H. Achmad Zaini, M.A., mahasiswa serta civitas akademika UTM dari berbagai fakultas.

Dalam sambutannya, Dr. Maria Ulfa Anshor menyampaikan apresiasi mendalam atas sinergi yang terjalin antara Komnas Perempuan dan Universitas Trunojoyo Madura. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program nasional Komnas Perempuan untuk memastikan perguruan tinggi di seluruh Indonesia menjadi ruang yang aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan, khususnya kekerasan seksual.

“Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas kesempatan bersinergi dengan Universitas Trunojoyo Madura. Ini adalah bagian dari program nasional Komnas Perempuan untuk memastikan tidak ada kekerasan, termasuk kekerasan seksual, di kampus manapun,” ujar Dr. Maria Ulfa.

Beliau menambahkan bahwa Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) yang disahkan pada 2022 menjadi instrumen penting dalam upaya penghentian kekerasan terhadap perempuan. Menurutnya, kekerasan terhadap perempuan sudah berada pada tahap darurat dan memerlukan tindakan nyata serta kolaboratif.

Komnas Perempuan juga telah menerbitkan “Standar Setting Kawasan Bebas Kekerasan” di perguruan tinggi, yang berfungsi sebagai alat ukur dan panduan dalam menilai sejauh mana kampus telah aman dan ramah terhadap perempuan.

“Instrumen ini sudah kami bagikan ke berbagai perguruan tinggi dan juga ke Kementerian untuk dijadikan rujukan dalam pemantauan. Jika satu kampus ramah terhadap perempuan, maka di sana tidak akan ada kekerasan seksual. Harapannya, kedatangan kami di UTM dapat memberi manfaat besar tidak hanya bagi kampus ini, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Pulau Madura,” tambahnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Trunojoyo Madura, Prof. Dr. Safi’, S.H., M.H., dalam sambutannya menegaskan pentingnya membangun budaya kampus yang mengedepankan dialog, musyawarah, dan kedamaian dalam menyelesaikan setiap persoalan.

“Semoga acara ini membawa manfaat kebaikan bagi kita semua, khususnya dalam membangun pribadi yang selalu mengatakan stop terhadap kekerasan. Mari kita kedepankan cara-cara bijak, damai, dan bermusyawarah dalam menghadapi setiap permasalahan,” ujar Rektor.

Beliau juga mengajak seluruh civitas akademika, baik dosen maupun mahasiswa, untuk mendukung upaya UTM dalam menciptakan lingkungan akademik yang sehat dan produktif tanpa perilaku negatif.

“UTM terus berikhtiar membangun peradaban yang berkelanjutan. Jangan dirusak dengan tindakan kekerasan yang bisa berdampak buruk terhadap kita semua. Mari kita wujudkan kampus beradab yang bebas dari segala bentuk kekerasan, termasuk dalam proses belajar dan mengajar,” tegasnya.

Sebagai wujud nyata dari kerja sama tersebut, kegiatan ini juga dirangkai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA) antara Universitas Trunojoyo Madura bersama tujuh fakultas di lingkungan UTM, Komnas Perempuan, dan Dewan Pembangunan Madura.

Langkah ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat komitmen bersama untuk mencegah serta menangani kekerasan di dunia pendidikan tinggi, khususnya di Pulau Madura.

Setelah penandatanganan MoU dan MoA, acara dilanjutkan dengan kuliah umum yang disampaikan oleh Dr. Maria Ulfa Anshor, M.Si., bertema “Penguatan Karakter Civitas Akademika dalam Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus.”

Dalam sesi ini, Dr. Maria Ulfa memaparkan pentingnya membangun kesadaran kritis dan empati di lingkungan kampus, serta menanamkan nilai-nilai kesetaraan, saling menghormati, dan keberanian untuk melaporkan tindak kekerasan.

Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif antara peserta dan narasumber, yang berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Para mahasiswa dan dosen UTM aktif bertanya seputar strategi pencegahan kekerasan, implementasi kebijakan kampus aman, hingga mekanisme pendampingan korban.

Melalui kegiatan ini, UTM menegaskan perannya sebagai pelopor kampus aman dan berkeadilan di Pulau Madura, serta mendukung penuh program nasional dalam upaya mewujudkan lingkungan pendidikan tinggi yang bebas dari segala bentuk kekerasan, khususnya terhadap perempuan dan kelompok rentan.

Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah nyata menuju budaya akademik yang sehat, humanis, dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan.

“Universitas Trunojoyo Madura adalah simbol pendidikan terbesar di Pulau Madura. Harapannya, UTM bisa menjadi contoh bagi universitas-universitas lain dalam mengembangkan kampus yang aman, inklusif, dan ramah terhadap semua,” pungkas Dr. Maria Ulfa Anshor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *