UTM Bahas Hilirisasi Industri Garam Madura Bersama Pemda Ciayumajakuning dan Bank Indonesia Cirebon
Bangkalan, 4 November 2026 — Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) memperluas peluang kolaborasi riset dan inovasi melalui kunjungan serta diskusi bersama perwakilan pemerintah daerah wilayah Ciayumajakuning dan Bank Indonesia Cirebon. Pertemuan yang difasilitasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UTM ini berfokus pada hilirisasi industri garam berbasis riset dan inovasi, sekaligus menjajaki potensi kerja sama pengembangan komoditas unggulan daerah.
Kegiatan berlangsung di Ruang Rapat 502, Lantai 5 Gedung Rektorat UTM, Rabu (4/11/2026). Forum tersebut menjadi ruang pertukaran pengetahuan mengenai pengembangan industri garam, pemanfaatan hasil riset, dan peluang penerapan inovasi yang dapat meningkatkan nilai tambah komoditas lokal. Delegasi Bank Indonesia Cirebon dipimpin oleh Deputi Kepala Perwakilan, Fickry Widya Nugraha, S.E., M.Si.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Alumni UTM, Surokim, S.Sos., S.H., M.Si., menyambut baik kunjungan tersebut sebagai kesempatan untuk saling mempelajari praktik pengembangan potensi daerah. Menurutnya, garam merupakan salah satu identitas sekaligus kekuatan ekonomi Madura yang perlu terus dikembangkan melalui inovasi dan penguatan industri. “Cita-cita kami adalah mengangkat potensi lokal Madura agar semakin kompetitif, baik di tingkat nasional maupun global. Untuk mempercepatnya, kita perlu belajar dari praktik-praktik terbaik sekaligus membangun visi pengembangan ke depan,” ujar Surokim.
Ia menegaskan, UTM memiliki komitmen untuk mengembangkan potensi lokal melalui riset dan inovasi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Pertukaran pengalaman dengan wilayah Ciayumajakuning diharapkan membuka perspektif baru bagi kedua pihak dalam mengembangkan komoditas unggulan dan produk berbasis riset.
Kepala LPPM UTM, Dr. Iskandar Dzulkarnain, S.Th.I., M.Si., menjelaskan bahwa garam merupakan salah satu dari enam sektor riset unggulan yang dikembangkan UTM, bersama rempah, jamu, sapi, jagung, dan energi terbarukan berbasis potensi lokal. Selain itu, UTM juga mengembangkan riset kebudayaan Madura dan kajian pemberdayaan perempuan.
Menurut Iskandar, pengembangan riset garam dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir dengan dukungan fasilitas laboratorium dan Teaching Industry. UTM memiliki laboratorium garam di Kabupaten Pamekasan, sementara hasil produksi dan pengembangannya selanjutnya dikaji serta diolah melalui fasilitas laboratorium dan Teaching Industry UTM. “Garam menjadi salah satu riset unggulan kami. Kami tidak hanya melakukan penelitian, tetapi juga mengembangkan proses pengolahan dan hilirisasi melalui fasilitas laboratorium yang dimiliki UTM,” jelas Iskandar.
Dari pihak mitra, Fickry Widya Nugraha, S.E., M.Si., menyampaikan ketertarikan Bank Indonesia Cirebon bersama perwakilan pemerintah daerah Ciayumajakuning untuk mempelajari pengembangan garam Madura serta berbagai inovasi yang dikembangkan UTM. Penjajakan ini diharapkan membuka peluang pertukaran pengetahuan dan kerja sama riset, termasuk pengembangan inovasi di sektor perikanan seperti budidaya lele berbasis probiotik
Dalam sesi pemaparan, Kepala Pusat Penelitian dan Inovasi Garam LPPM UTM, Dr. Haryo Triajie, S.Pi., M.Si., menjelaskan fokus riset garam yang mencakup pengembangan teknologi dari hulu hingga hilir. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah pemanfaatan bittern atau limbah cair industri garam melalui teknologi konversi dan purifikasi untuk menghasilkan bahan kimia berupa reagen laboratorium berkualitas tinggi.
Inovasi tersebut diarahkan untuk mendukung kemandirian penyediaan bahan kimia laboratorium sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil samping industri garam. Pengembangan ini juga menjadi bagian dari kontribusi UTM dalam mendukung swasembada garam nasional melalui sistem produksi yang terintegrasi, berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Guru Besar Teknologi Pergaraman UTM, Prof. Dr. H. Makhfud Efendy, S.Pi., M.Si., mengangkat potensi garam sebagai kekuatan ekonomi Madura. Ia menyampaikan bahwa Madura memasok sekitar 35 persen atau lebih dari 500.000 ton produksi garam nasional secara berkala setiap tahun. Potensi tersebut perlu diikuti perubahan orientasi industri, dari sekadar menjual garam mentah atau garam krosok menuju pengolahan dan manufaktur lokal yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Selain sektor garam, UTM turut memperkenalkan inovasi di bidang perikanan melalui pemaparan Abdus Salam Junaedi, S.Si., M.Si., tim UPA Pengembangan Teknologi dan Produk Unggulan (PTPU) UTM. Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah FiyshPro, campuran mikroba hidup yang diaplikasikan melalui air atau pakan untuk mendukung pertumbuhan ikan, meningkatkan kualitas air, dan mengoptimalkan produktivitas budidaya secara ramah lingkungan.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui sistem budidaya bioflok yang memungkinkan pemanfaatan lahan lebih efisien dan pengelolaan air lebih optimal. Hasil penelitian yang dipaparkan menunjukkan perlakuan probiotik FiyshPro pada kolam budidaya lele berkaitan dengan penurunan bakteri patogen dan peningkatan bakteri menguntungkan pada air kolam maupun saluran pencernaan ikan.
Bagi UTM, kunjungan ini menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring kolaborasi sekaligus memperkenalkan kapasitas riset dan inovasi yang dikembangkan berdasarkan potensi lokal. Hilirisasi menjadi langkah penting agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi akademik, tetapi dapat diterapkan, dikembangkan bersama mitra, dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah.
Melalui sinergi dengan pemerintah daerah dan Bank Indonesia, UTM terus mendorong pengembangan potensi Madura melalui riset, teknologi, dan inovasi yang berkelanjutan. Dari garam hingga produk unggulan perikanan, UTM berkomitmen mengangkat kekayaan lokal Madura menjadi kekuatan ekonomi yang berdaya saing dan berdampak nyata bagi masyarakat.