UTM Masuk 10 Besar Nasional, Dampingi 246 Desa untuk Perkuat Pemberdayaan Masyarakat
SALATIGA – Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) mencatatkan prestasi di tingkat nasional dengan masuk dalam 10 besar perguruan tinggi dengan jumlah desa dampingan terbanyak di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia, UTM tercatat mendampingi sebanyak 246 desa pada 2025. Capaian ini menegaskan peran UTM dalam mendorong pemberdayaan masyarakat dan memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan desa.
Capaian tersebut ditampilkan dalam kegiatan Rapat Koordinasi Nasional Forum Perguruan Tinggi dalam Pemberdayaan Masyarakat yang berlangsung di Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Kamis (15/10/2026). Forum nasional ini mengusung tema “Sinergi Implementasi Tridharma dalam Pemberdayaan Masyarakat yang Inklusif, Berdampak, dan Berkelanjutan.”
Dalam daftar perguruan tinggi dengan jumlah desa dampingan terbanyak, UTM menempati posisi ke-10. UTM berada dalam jajaran perguruan tinggi yang berkontribusi melalui pendampingan dan pemberdayaan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Berdasarkan data yang dipaparkan, Institut Pertanian Bogor menempati posisi pertama dengan 7.575 desa dampingan, disusul Universitas Jember dengan 1.058 desa dan Universitas Sebelas Maret dengan 512 desa. Sementara itu, UTM mencatatkan 246 desa dampingan sepanjang 2025.
Data tersebut juga memuat rencana pengembangan pendampingan desa untuk periode 2026–2029. Dalam perencanaan tersebut, UTM menargetkan peningkatan jumlah desa dampingan menjadi 250 desa pada 2029. Target ini menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan pengabdian sekaligus meningkatkan kebermanfaatan program bagi masyarakat.
Masuknya UTM dalam 10 besar nasional menjadi momentum untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan masyarakat. Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), UTM terus mendorong implementasi Tridharma Perguruan Tinggi agar pendidikan, penelitian, dan pengabdian dapat berjalan selaras serta menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pendampingan desa menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi dengan kebutuhan masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, potensi lokal dapat dikembangkan menjadi kekuatan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memperkuat ekonomi masyarakat, serta mendorong kemandirian desa.
Sebagai perguruan tinggi yang tumbuh di Madura, UTM memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan berbasis potensi daerah. Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan berbagai mitra pembangunan menjadi elemen penting untuk memastikan program pemberdayaan berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.
Pendekatan pemberdayaan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan program, tetapi juga diarahkan untuk membangun kapasitas masyarakat agar mampu mengelola potensi dan menyelesaikan persoalan di lingkungannya secara mandiri.
Bagi UTM, capaian 246 desa dampingan bukan sekadar angka, melainkan peluang untuk memperluas kontribusi dalam pembangunan masyarakat. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap program pendampingan mampu menghasilkan perubahan positif yang dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Keberhasilan pemberdayaan masyarakat tidak hanya diukur dari jumlah desa yang didampingi, tetapi juga dari peningkatan kapasitas warga, tumbuhnya kegiatan ekonomi produktif, berkembangnya inovasi lokal, serta meningkatnya kemandirian masyarakat dalam mengelola potensi desa.
Karena itu, penguatan kolaborasi lintas sektor dan pengembangan program berbasis kebutuhan masyarakat menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pendampingan. Dengan dukungan berbagai pihak, potensi desa diharapkan dapat dikembangkan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Capaian ini sekaligus memperkuat komitmen UTM dalam mewujudkan semangat Kampus Berdampak, yakni perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan lulusan dan penelitian, tetapi juga hadir memberikan solusi atas persoalan nyata di tengah masyarakat.
Melalui sinergi Tridharma Perguruan Tinggi yang inklusif, berdampak, dan berkelanjutan, UTM berupaya memperluas kontribusinya dalam pembangunan desa. Ke depan, pendampingan masyarakat diharapkan semakin berkualitas, mampu memperkuat kemandirian desa, serta menghadirkan manfaat nyata bagi pembangunan Madura dan Indonesia.