Diplomatic Visit and Academic Dialogue, Konsul Jenderal Amerika Serikat Kunjungi UTM
BANGKALAN, 6 Oktober 2026 — Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) menerima kunjungan kerja Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya dalam agenda Diplomatic Visit and Academic Dialogue, Selasa (6/10/2026). Kunjungan tersebut menjadi momentum silaturahmi sekaligus dialog akademik untuk membuka peluang kerja sama dan memperkuat keterlibatan UTM dalam jejaring pendidikan tinggi internasional.
Konsul Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Christopher R. Green, hadir bersama jajaran Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya. Rombongan diterima oleh pimpinan dan sivitas akademika UTM dalam dua rangkaian kegiatan, yakni pertemuan dengan pimpinan UTM di Gedung Graha Utama Lantai 5 Ruang 501 dan dialog akademik bersama sivitas akademika yang berlangsung di Aula Syaikhona Muhammad Kholil, Lantai 10 Gedung Graha Utama.
Turut hadir dalam rombongan Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Luther Gove selaku Pejabat Politik dan Ekonomi, Courtney J. Woods selaku Kepala Humas, Catur Wahyudi selaku Asisten Politik dan Ekonomi, serta Yoana Kristiawati selaku Koordinator Humas.
Mewakili pimpinan universitas, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Alumni UTM, Surokim, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Konsul Jenderal Amerika Serikat beserta rombongan ke UTM.
“Terima kasih sudah berkenan datang ke Universitas Trunodjoyo Madura. Kami berharap kunjungan ini tidak menjadi yang pertama dan terakhir, tetapi dapat dilanjutkan dengan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bagi kedua pihak,” ujar Surokim.
Menurutnya, UTM memiliki posisi strategis sebagai salah satu pintu untuk mengenal Madura lebih jauh. Dengan demikian, keterhubungan UTM dengan berbagai mitra internasional dinilai penting untuk memperluas kontribusi universitas, baik dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun pengembangan sumber daya manusia.
“UTM merupakan halaman depan Madura. Wajah Madura ke depan juga sangat bergantung pada perkembangan dunia, salah satunya melalui peran perguruan tinggi. Karena itu, kami berharap muncul banyak kolaborasi dan kerja sama dengan berbagai pihak sehingga UTM dapat berkembang lebih besar, memberikan manfaat lebih luas, dan menjadi kampus yang semakin diminati,” katanya.
Surokim juga menjelaskan bahwa UTM terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, UTM memiliki sekitar 23 ribu mahasiswa yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia serta mahasiswa internasional dari sejumlah negara.
Keberadaan mahasiswa internasional tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari upaya UTM dalam membangun lingkungan akademik yang semakin terbuka dan berorientasi global. UTM juga terus mendorong berbagai program internasionalisasi yang dapat mempertemukan sivitas akademika dengan mitra dari berbagai negara.
“Kami menyadari masih banyak hal yang perlu dikembangkan. Karena itu, kerja sama menjadi salah satu cara untuk saling melengkapi. Kami berharap dialog hari ini dapat menghasilkan mutual benefit yang pada akhirnya meningkatkan peran dan kontribusi masing-masing pihak,” imbuhnya.
Ia menambahkan, UTM terbuka terhadap berbagai bentuk kolaborasi dengan Konsulat Jenderal Amerika Serikat, baik yang berkaitan dengan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan kapasitas mahasiswa dan dosen, maupun kegiatan akademik lainnya.
Sementara itu, Konsul Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Christoper R. Green, menyampaikan apresiasi atas sambutan UTM. Ia menilai pertemuan secara langsung dengan pimpinan perguruan tinggi, dosen, dan mahasiswa merupakan bagian penting dalam memperkuat hubungan antara masyarakat Amerika Serikat dan Indonesia.
Menurut Christoper, hubungan antarmasyarakat (people-to-people relations) memiliki peran penting dalam membangun pemahaman bersama. Pertemuan dan dialog secara langsung menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, memahami perspektif masing-masing, sekaligus mengidentifikasi peluang kolaborasi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kami sangat menghargai kesempatan untuk bertemu dengan pimpinan dan sivitas akademika UTM. Bagi kami, dialog seperti ini sangat penting untuk saling memahami, berbagi pengalaman, serta memperkuat hubungan antara masyarakat Indonesia dan Amerika Serikat,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun komunikasi dan kerja sama secara berkelanjutan. Menurutnya, berbagai program yang dapat memberikan manfaat kepada masyarakat akan lebih mudah diwujudkan melalui keterlibatan dan kolaborasi berbagai pihak.
“Kesempatan untuk berbicara dan berdiskusi bersama seperti hari ini sangat membantu. Kami ingin mengetahui pengalaman dan perspektif dari berbagai pihak, karena program dan kerja sama tidak mungkin berjalan tanpa komunikasi, keterlibatan, dan kemitraan,” jelasnya.
Christopher berharap kunjungan tersebut dapat menjadi awal dari hubungan yang lebih erat antara Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya dan UTM. Ia membuka peluang untuk menjajaki berbagai bentuk kerja sama yang dapat mendukung mahasiswa, sivitas akademika, maupun masyarakat secara lebih luas.
Dialog akademik tersebut kemudian dilanjutkan dengan interaksi bersama sivitas akademika UTM. Forum ini menjadi ruang untuk bertukar pandangan mengenai pendidikan tinggi, hubungan internasional, pengembangan mahasiswa, serta peluang kolaborasi akademik antara UTM dan pihak Amerika Serikat.
Melalui Diplomatic Visit and Academic Dialogue tersebut, UTM menegaskan komitmennya untuk terus memperluas jejaring kemitraan internasional. Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi lahirnya berbagai program kolaboratif yang memperkuat pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan kapasitas sivitas akademika dalam menghadapi tantangan global.