UTM Perkuat Peran Konselor Sebaya melalui Peer Counselor, Dorong Mahasiswa Jadi Teman Bicara dan Teman Bertumbuh
BANGKALAN, 15 September 2026 — Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) memperkuat kepedulian terhadap kesehatan mental mahasiswa melalui kegiatan Peer Counselor yang diselenggarakan Unit Pelaksana Akademik (UPA) Bimbingan dan Konseling. Kegiatan yang mengusung tema “Teman Bicara, Teman Bertumbuh” tersebut berlangsung di Aula Syaikhona Muhammad Kholil, Lantai 10 UTM, Selasa (15/9/2026).
Kegiatan ini dihadiri Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, mahasiswa UTM, guru Bimbingan dan Konseling (BK), serta siswa dari sejumlah sekolah di sekitar Bangkalan, di antaranya SMAN 1 Kamal, SMK 1 Kamal, SMKN 1 Bangkalan, MAN Bangkalan, SMA 2 Bangkalan, SMK Yannas Husada, dan PPA Sidoarjo.
Ketua UPA Bimbingan dan Konseling UTM, Hera Wahyuni, mengatakan kegiatan Peer Counselor tidak sekadar mengajarkan peserta untuk mendengar cerita teman, tetapi juga membekali mereka dengan kemampuan mendengarkan secara tepat.
Menurutnya, seorang konselor sebaya harus mampu membuat orang yang bercerita merasa dipahami, diterima, dan tidak dihakimi. Kerahasiaan cerita juga menjadi salah satu prinsip penting yang harus dijaga.
“Tidak hanya sekadar mendengar, tetapi bagaimana mendengarkan dengan cara yang benar. Ketika kita sedang curhat, kita merasa dipahami, teman kita hadir, mengerti apa yang kita pikirkan dan rasakan, serta menjaga kerahasiaan dan tidak menghakimi,” ujarnya.
Hera menambahkan, konselor sebaya juga perlu memahami batas kewenangannya. Ketika persoalan yang dihadapi teman membutuhkan penanganan lebih lanjut, konselor sebaya harus mampu mengarahkan atau merujuk kepada tenaga profesional maupun UPA Bimbingan dan Konseling.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Alumni UTM, Surokim, menekankan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental di tengah kehidupan mahasiswa yang semakin kompleks.
Ia menyebut UTM memiliki jumlah mahasiswa yang besar sehingga upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung kesehatan mental membutuhkan keterlibatan seluruh sivitas akademika.
“Manusia tidak mungkin tidak memiliki masalah. Yang penting adalah bagaimana kita mengatasi masalah. Karena itu, teman sebaya menjadi penting untuk memberikan dukungan, sehingga mahasiswa tidak memendam persoalannya sendirian,” katanya.
Menurut Surokim, keberadaan konselor sebaya dapat menjadi salah satu langkah deteksi dini. Mahasiswa didorong untuk berani berbicara dan saling memberikan dukungan ketika menghadapi persoalan.
Ia juga mengaitkan kesehatan mental dengan kemampuan mahasiswa untuk membangun daya juang dan ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan.
“UTM itu unggul, tangguh, mandiri. Tangguh itu yang paling penting. Jatuh, bangun, jatuh, bangun. Datang masalah, datang masalah, tetapi tetap bisa bertumbuh,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Surokim secara resmi membuka pelatihan Peer Counselor “Teman Bicara, Teman Bertumbuh”. Ia berharap kegiatan tersebut dapat membangun budaya saling peduli sekaligus memperkuat keterampilan nonakademik mahasiswa.
Materi utama disampaikan oleh Belia A. Kartika D., yang membahas konsep peer counselor dan psychological first aid (PFA). Ia menjelaskan bahwa konselor sebaya merupakan individu yang memiliki posisi setara dengan teman yang membutuhkan tempat bercerita dan telah mendapatkan pelatihan untuk memberikan dukungan awal.
“Peer counselor itu teman sebaya yang sudah dilatih dan dibekali untuk membantu temannya. Kita bukan bertugas menyelesaikan masalah, tetapi memberikan ketenangan dan rasa terhubung,” jelasnya.
Kartika mengingatkan peserta agar tidak mudah memberikan diagnosis psikologis kepada teman hanya berdasarkan informasi yang diperoleh dari media sosial. Menurutnya, persoalan psikologis perlu dipahami secara utuh dan penanganan profesional harus dilakukan oleh pihak yang memiliki kompetensi.
Dalam pelatihan tersebut, peserta juga dibekali sejumlah keterampilan dasar, mulai dari menjaga etika dan kerahasiaan, mengenali batas kemampuan diri, tidak memaksakan nilai pribadi, membangun empati, mendengarkan secara aktif, melakukan attending, mengajukan pertanyaan terbuka, melakukan probing, merangkum pembicaraan, memberikan umpan balik, hingga melakukan rujukan.
Kartika menekankan bahwa kemampuan mendengarkan berbeda dengan sekadar mendengar. Seorang konselor sebaya harus hadir secara penuh ketika temannya bercerita, memberikan perhatian, menjaga bahasa tubuh, tidak mudah memotong pembicaraan, serta membantu teman mengenali perasaan yang sedang dialaminya.
“Ketika kita benar-benar hadir dan mendengarkan, teman yang bercerita akan merasa tidak sendirian dan merasa bahwa apa yang dialaminya tidak diremehkan,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya mengenali tanda-tanda ketika seseorang membutuhkan bantuan lebih lanjut. Perubahan perilaku yang signifikan dapat menjadi sinyal bagi teman sebaya untuk melakukan pendekatan dan memberikan dukungan.
Namun, apabila seseorang mulai menunjukkan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih serius, termasuk kecenderungan menyakiti diri, konselor sebaya tidak boleh menangani sendiri. Kondisi tersebut harus segera dikomunikasikan kepada guru BK, UPA Bimbingan dan Konseling, atau tenaga profesional yang berwenang.
Melalui kegiatan ini, UTM berharap terbentuk lebih banyak trusted person di lingkungan kampus maupun sekolah, yakni individu yang mampu menjadi tempat aman untuk berbicara sekaligus memahami kapan harus memberikan dukungan dan kapan perlu melakukan rujukan.
Program Peer Counselor sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan pendidikan yang lebih peduli, inklusif, dan mendukung pertumbuhan mahasiswa secara utuh, baik dari sisi akademik maupun kehidupan sosial dan emosional.