Dari Semangat Tanduk Majeng hingga Inovasi Karbon Dunia, Dosen UTM Bawa Nilai Madura ke Panggung Riset Internasional
Bangkalan, 15 Juni 2026 — Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) kembali menunjukkan kiprahnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat global. Prestasi tersebut hadir melalui keberhasilan salah satu dosennya, Nizar Amir, putra kelahiran Ampel, Surabaya, yang berhasil meraih gelar doktor dari Sunway University, Malaysia, dalam waktu 2 tahun 6 bulan melalui riset di bidang Carbon Dioxide Capture, Utilization and Storage (CCUS).
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa talenta akademik Universitas Trunodjoyo Madura memiliki kapasitas untuk berkompetisi di ranah internasional, khususnya dalam bidang teknologi berkelanjutan dan solusi lingkungan. Tidak hanya menyelesaikan studi doktoral dalam waktu relatif singkat, Nizar juga berhasil menghasilkan sejumlah publikasi ilmiah internasional bereputasi kategori Q1 dengan total journal impact factor mencapai 53,9. Seluruh karya ilmiah tersebut merupakan bagian dari penelitian disertasinya dan ditulis dengan posisi sebagai penulis pertama.
Lebih dari sekadar pencapaian akademik, perjalanan Nizar menghadirkan cerita tentang bagaimana nilai budaya lokal mampu menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi tantangan global. Filosofi “Tanduk Majeng”, yang menggambarkan keberanian masyarakat Madura dalam menghadapi gelombang kehidupan dengan kerja keras, keteguhan hati, dan keyakinan kepada Allah SWT, menjadi nilai yang terus ia bawa selama menjalani perjalanan intelektualnya.
Saat menempuh pendidikan di Malaysia, Nizar tidak hanya fokus pada aktivitas akademik. Ia juga banyak berinteraksi dengan komunitas masyarakat Madura di Desa Mentari, Bandar Sunway. Dari kehidupan bersama masyarakat perantauan tersebut, ia menemukan banyak pelajaran tentang karakter orang Madura yang menjunjung tinggi kerja keras, solidaritas, amanah, serta kepedulian sosial.
Pengalaman tersebut semakin kuat melalui perjumpaannya dengan berbagai tokoh dan sahabat di perantauan, seperti Ustadz Zuhri yang aktif mendampingi komunitas pekerja migran melalui lingkungan PCINU Malaysia, serta sahabat-sahabatnya Mad Tadong, Bang Syaiful Bahri, dan Moh Salem yang menjadi bagian dari perjalanan kehidupan selama berada jauh dari tanah air.
Bagi Nizar, semangat masyarakat Madura di perantauan memiliki makna yang sejalan dengan pesan Tanduk Majeng. Kehidupan ibarat perjalanan melintasi lautan luas, penuh tantangan dan gelombang, namun harus dihadapi dengan keberanian, ketekunan, serta keyakinan untuk terus bergerak maju.
Semangat tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam dunia akademik melalui penelitian teknologi penangkapan karbon. Dalam studi doktoralnya pada bidang teknik mesin, Nizar mengembangkan inovasi material berbasis limbah industri rumput laut yang dapat dimanfaatkan sebagai adsorben untuk menangkap karbon dioksida (CO₂).
Riset tersebut berfokus pada teknologi post-combustion carbon dioxide capture, yaitu metode untuk menangkap emisi karbon dioksida dari gas buang industri maupun pembangkit listrik berbahan bakar fosil sebelum dilepaskan ke atmosfer.
Material yang dikembangkan dalam penelitian ini dirancang memiliki karakteristik unggul dalam proses adsorpsi CO₂, seperti struktur mikropori yang dominan, keseimbangan susunan pori, luas permukaan yang tinggi, stabilitas mekanik, serta kemampuan regenerasi sehingga dapat digunakan secara berulang.
Inovasi tersebut memiliki nilai penting karena tidak hanya menawarkan solusi pengurangan emisi karbon, tetapi juga memberikan nilai tambah terhadap limbah industri. Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, yakni model pembangunan yang mengedepankan pemanfaatan kembali sumber daya, pengurangan limbah, serta penciptaan manfaat ekonomi dan lingkungan secara berkelanjutan.
Melalui penelitian tersebut, limbah industri rumput laut yang selama ini belum optimal dimanfaatkan berpotensi dikembangkan menjadi material teknologi yang berkontribusi dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global.
Prestasi Nizar Amir menjadi gambaran bahwa nilai-nilai lokal tidak berhenti sebagai warisan budaya, tetapi dapat menjadi energi penggerak lahirnya inovasi dan kontribusi ilmiah. Semangat ketangguhan, kerja keras, dan pantang menyerah yang melekat dalam filosofi Tanduk Majeng mampu bertransformasi menjadi kekuatan akademik yang membawa nama Madura ke panggung internasional.
Dari nilai budaya pesisir Madura menuju riset teknologi karbon masa depan, Universitas Trunodjoyo Madura menunjukkan bahwa kearifan lokal, potensi daerah, dan kapasitas intelektual dapat berjalan beriringan untuk menghadirkan solusi bagi persoalan dunia.