UTM Terima Bimbingan Teknis dari Sesditjen Kemdiktisaintek, Perkuat Digitalisasi Pembelajaran dan Tata Kelola Perguruan Tinggi
Bangkalan, 8 April 2026 — Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) menerima arahan langsung dari Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Sesditjen Dikti) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Dr. med. Setiawan, dr., dalam kegiatan bimbingan teknis bertema “Arah dan Kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Berdampak: Akselerasi Digitalisasi Tata Kelola Perguruan Tinggi untuk Peningkatan Mutu Layanan dan Kinerja Akademik.”
Kegiatan yang berlangsung di Aula Syaikhona Muhammad Kholil, Gedung Graha Utama Lantai 10 UTM ini menjadi momentum strategis dalam memperkuat transformasi digital, penguatan tata kelola akademik, serta kesiapan perguruan tinggi dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0.
Dalam sambutannya, Rektor UTM, Prof. Dr. Safi’, S.H., M.H., menyampaikan rasa syukur atas perhatian pemerintah pusat terhadap UTM. Ia menilai, arahan langsung dari pimpinan kementerian menjadi energi baru bagi UTM dalam menjalankan tugas dan amanah sebagai perguruan tinggi negeri di Madura. “Alhamdulillah UTM mendapat perhatian dengan diberikan arahan langsung dari Sesditjen, yang sebelumnya di awal bulan puasa diberikan arahan oleh Dirjen. Ini tentu menjadi energi bagi kami dalam menyelenggarakan tugas dan amanah,” ujarnya.
Rektor juga menegaskan bahwa UTM harus terus meningkatkan daya saing di tingkat nasional. Ia menyebut, saat ini UTM berada di jajaran 10 besar perguruan tinggi terbaik di Jawa Timur dan menempati peringkat ke-9 berdasarkan Webometrics. Menurutnya, capaian tersebut perlu diiringi dengan evaluasi berkelanjutan, khususnya dalam peningkatan kualitas layanan akademik guna menghasilkan lulusan yang unggul dan berdaya saing.
Sementara itu, dalam pemaparannya, Prof. Setiawan menyoroti berbagai tantangan pendidikan tinggi di Indonesia, mulai dari rendahnya angka partisipasi pendidikan tinggi, kompleksitas persoalan global, hingga pentingnya penguatan inovasi untuk mendorong Indonesia keluar dari middle income trap menuju Indonesia Emas 2045. Ia menegaskan bahwa pendidikan tinggi ke depan harus bersifat inklusif, adaptif, dan berdampak, dengan tata kelola yang berintegritas, partisipatif, transparan, dan akuntabel.
Lebih lanjut, Sesditjen Dikti menekankan bahwa digitalisasi bukan sekadar pelengkap, melainkan enabler utama dalam core business perguruan tinggi, khususnya pada proses pembelajaran. Menurutnya, mahasiswa gen z saat ini merupakan digital native yang perlu dibekali literasi digital yang kuat, disertai kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. “Sekarang konten itu harus tersedia, digitalisasi harus menjadi enabler, tetapi tetap perlu dikombinasikan antara pembelajaran daring dan luring,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembelajaran tatap muka tetap memiliki peran penting sebagai ruang inspirasi dan refleksi, sehingga mahasiswa mampu memahami apa yang telah dan belum mereka kuasai, serta terdorong untuk terus belajar secara mandiri.
Selain itu, Prof. Setiawan juga menyoroti pentingnya penguatan tata kelola digital perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada penjaminan mutu, tetapi juga mendorong kemajuan akademik, riset, dan inovasi.
Ia menilai, UTM memiliki posisi strategis dalam berkontribusi menyelesaikan berbagai persoalan di Madura. Oleh karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi dan pendidikan dasar serta menengah perlu diperkuat, salah satunya melalui skema talent scouting untuk menjaring dan mempersiapkan calon mahasiswa dari keluarga kurang beruntung. “Yang penting kita memberikan harapan kepada siswa, agar mereka memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi, termasuk melalui berbagai skema beasiswa,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, UTM menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kualitas layanan akademik, mempercepat transformasi digital, serta meningkatkan kontribusi nyata bagi pembangunan Madura dan Indonesia. Sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi diharapkan menjadi kunci dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang unggul, adaptif, dan berdampak bagi masyarakat.