Dirjen Dikti Kemdiktisaintek Beri Arahan Transformasi Ekosistem Akademik di Universitas Trunodjoyo Madura
Bangkalan, 20 Februari 2026 — Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) menerima kunjungan dan arahan strategis dari Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Indonesia, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia, Prof. Dr. Khairul Munadi, S.T., M.Eng, dalam kegiatan bertajuk “Transformasi Ekosistem Akademik Menuju Kampus Adaptif, Unggul, dan Berdampak”. Kegiatan ini berlangsung di Aula Syaikhona Muhammad Kholil, Lantai 10, Gedung Graha Utama UTM.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Trunodjoyo Madura (UTM), Prof. Dr. Safi’, S.H., M.H., yang menegaskan pentingnya forum ini sebagai ruang sharing and hearing untuk menyelaraskan arah kebijakan pendidikan tinggi nasional dengan langkah strategis UTM sebagai PTN terakreditasi Unggul. “Kehadiran Bapak Dirjen menjadi energi baru bagi kami untuk terus berbenah dan bertransformasi. UTM berkomitmen menjadi kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat, sejalan dengan semangat Unggul, Tangguh, dan Mandiri,” ujar Rektor.
Ia juga menyampaikan capaian UTM sepanjang 2025, termasuk pembukaan sembilan program studi baru yang terdiri atas empat program doktor, empat program magister, dan satu program sarjana. Rektor turut memohon dukungan Dirjen Dikti Kemdiktisaintek terhadap pendirian Fakultas Kedokteran sebagai bagian dari kontribusi UTM dalam memperluas akses dan layanan pendidikan serta kesehatan bagi masyarakat Madura.
Memasuki sesi inti, Dirjen Dikti memaparkan konteks dan tantangan pendidikan tinggi menuju Indonesia Emas 2045. Ia menyoroti krisis global, yakni disrupsi teknologi, termasuk kecerdasan buatan, big data, bioteknologi, genomik, dan otomasi, serta kompetisi global yang menuntut perguruan tinggi bertransformasi secara adaptif dan progresif.
Prof. Khairul Munadi menjelaskan evolusi peran universitas dari Universitas Klasik (1.0) yang berfokus pada pengajaran, menuju Universitas Riset (2.0) dengan penekanan pada penemuan dan inovasi, kemudian Universitas Kewirausahaan (3.0) yang mendorong hilirisasi riset dan kolaborasi triple-helix, hingga Universitas 4.0 yang berorientasi pada transformasi sosial-ekonomi, keberlanjutan, dan model quadruple-helix dengan melibatkan masyarakat. “Perguruan tinggi tidak lagi cukup menjadi pusat keunggulan akademik (academic excellence), tetapi harus menjadi pusat transformasi sosial (societal relevance). Kampus harus mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi dampak,” tegasnya.
Ia menekankan paradigma Kampus Berdampak melalui pendekatan challenge-based learning, integrasi capstone project interdisipliner, penguatan riset terapan, digitalisasi, internasionalisasi, serta pembentukan karakter madani. Riset dan inovasi, lanjutnya, harus dipetakan kontribusinya terhadap SDGs, RPJMN, renstra pemerintah daerah, serta agenda nasional Indonesia Emas 2045.
Secara khusus, Dirjen Dikti mendorong UTM menjadi lokomotif transformasi bagi Madura dan Indonesia melalui penguatan riset terapan berbasis “Kemaduraan”. Sebagai contoh yakni inovasi garam UTM, untuk melakukan hilirisasi inovasi laboratorium ke penerapan praktis di masyarakat, serta pengembangan industri kreatif lokal. “UTM memiliki posisi strategis. Kampus ini harus menjadi ruang kolaborasi terbuka antara akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Keunggulan akademik harus diterjemahkan menjadi solusi konkret atas permasalahan lokal,” ujarnya.
Kegiatan yang dimoderatori oleh Lailatul Muarofah Hanim, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Kepala Pusat Pelatihan, Asesmen, dan Pengembangan SDM LPPMP UTM, berlangsung interaktif dengan sesi diskusi yang diikuti pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Antusiasme peserta mencerminkan komitmen bersama dalam mengakselerasi transformasi UTM menuju kampus adaptif, unggul, dan berdampak. Sebagaimana dikutip dalam penutup paparannya, Dirjen Dikti mengingatkan pesan Ki Hajar Dewantara, “Dengan ilmu kita menuju kemuliaan, dengan amal kita menuju kebajikan.”
Melalui arahan langsung oleh Dirjen Dikti, UTM mantap menegaskan langkah untuk terus memperkuat tridarma yang berdampak nyata, sekaligus mengambil peran sebagai institusi akademik yang juga memiliki kesadaran dalam turut menggerakkan pembangunan daerah dan kontribusi nyata menuju Indonesia Emas 2045.
