UTM Official

Seputar UTM

International Guest Lecture FKIP UTM: Bahasa dan Kuliner Jadi Medium Diplomasi Antarbangsa

Bangkalan, 23 Desember 2025 — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan melalui penyelenggaraan International Guest Lecture bertema “Bahasa dan Kuliner sebagai Medium Diplomasi Antarbangsa”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 23 Desember 2025, bertempat di Aula Syaichona Muhammad Kholil, Gedung Rektorat Lantai 10.

Kuliah tamu internasional tersebut menghadirkan dua dosen dari School of Political Science and Public Administration, Walailak University, Thailand, yakni Assoc. Prof. Pensri Panich, B.A., M.Pd. dan Nisachon Chucai, B.A., M.Pd. Kehadiran akademisi dari Thailand ini menjadi bagian dari rangkaian program internasional FKIP UTM, setelah sepekan sebelumnya sukses menyelenggarakan kuliah tamu bersama dosen Universiti Utara Malaysia (UUM). Hal ini menunjukkan konsistensi FKIP UTM dalam membuka ruang dialog global serta memperkaya wawasan sivitas akademika melalui perspektif lintas negara.

Dekan FKIP UTM, Dr. Badrud Tamam, S.Si., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan rasa senang dan apresiasi atas kunjungan dari Walailak University. Ia menegaskan bahwa internasionalisasi kampus merupakan salah satu target utama FKIP UTM. Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa mahasiswa FKIP UTM memiliki kesempatan mengikuti program perkuliahan selama satu semester di perguruan tinggi mitra luar negeri, termasuk Walailak University. Program tersebut telah terealisasi pada Semester Gasal 2025 dengan enam mahasiswa FKIP UTM yang mengikuti perkuliahan di Walailak University.

Dalam sesi pemaparan materi, Assoc. Prof. Pensri Panich, yang akrab disapa Achan Giff, mengulas konsep gastrodiplomasi dan peran bahasa sebagai instrumen strategis dalam diplomasi budaya. Ia menjelaskan bahwa bahasa dan kuliner tidak hanya merepresentasikan identitas suatu bangsa, tetapi juga dapat menjadi jembatan yang efektif dalam memperkuat hubungan diplomatik, termasuk di bidang politik dan ekonomi internasional.

Achan Giff mencontohkan praktik gastrodiplomasi Thailand melalui promosi kuliner khas ke berbagai negara di dunia. Strategi tersebut dinilai berhasil meningkatkan citra bangsa sekaligus menarik minat wisatawan mancanegara. “Melalui makanan, sebuah negara dapat memperkenalkan nilai, budaya, dan karakter bangsanya tanpa harus menggunakan pendekatan politik yang kaku,” ungkapnya.

Sementara itu, Nisachon Chucai, yang dikenal dengan sapaan Achan Beam, menyoroti peran bahasa sebagai medium penting dalam membangun relasi antarbangsa. Ia mengungkapkan bahwa bahasa Indonesia telah diajarkan di sejumlah universitas di Thailand, seiring dengan kedekatan geografis dan kultural antara Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Selain faktor regional, ketertarikan mahasiswa Thailand terhadap Indonesia juga dipengaruhi oleh kiprah dan prestasi Indonesia di kancah internasional, salah satunya dalam bidang e-sport.

Menurut Achan Beam, fenomena tersebut menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana membangun ketertarikan, relasi sosial, serta kerja sama lintas budaya. “Bahasa membuka akses terhadap pemahaman budaya dan memperkuat hubungan antarmasyarakat, khususnya di kalangan generasi muda,” jelasnya.

Melalui materi yang disampaikan oleh kedua narasumber, dapat disimpulkan bahwa bahasa dan kuliner memiliki peran strategis sebagai medium diplomasi budaya yang mampu menjalin relasi sosial, budaya, hingga politik antarnegara. Pendekatan ini dinilai relevan dalam menghadapi dinamika global yang semakin menuntut kerja sama berbasis pemahaman lintas budaya.

Penyelenggaraan International Guest Lecture ini juga semakin memperkuat kerja sama institusional antara FKIP Universitas Trunojoyo Madura dan Walailak University. Sebelumnya, pada September 2025, Walailak University telah menyelenggarakan kuliah tamu internasional dengan menghadirkan dosen FKIP UTM sebagai narasumber. Kolaborasi timbal balik tersebut menjadi bukti nyata komitmen kedua perguruan tinggi dalam mengembangkan jejaring akademik internasional yang berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, FKIP UTM berharap mahasiswa dan dosen memperoleh wawasan global yang lebih luas serta tumbuh kesadaran akan pentingnya peran pendidikan, bahasa, dan budaya dalam membangun perdamaian serta kerja sama antarbangsa di era globalisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *