UTM Official

Seputar UTM

UTM Kukuhkan Dua Guru Besar Baru dalam Sidang Terbuka Senat: Penguatan Ilmu Ekonomi Terapan serta Statistik dan Manajemen Data

Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kembali menorehkan sejarah penting dalam perjalanan akademiknya dengan mengukuhkan dua Guru Besar baru ke-28 dan 29 di Universitas Trunojoyo Madura melalui Sidang Terbuka Senat Universitas yang berlangsung khidmat di Gedung R.P. Mohammad Noer, Kampus UTM. Momentum ini tidak sekadar menjadi puncak capaian akademik seorang dosen, tetapi juga menegaskan komitmen UTM dalam memperkuat kualitas tridharma perguruan tinggi dan kontribusi keilmuan bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Prosesi pengukuhan diawali dengan pembukaan sidang serta penegasan legitimasi akademik oleh Ketua Senat Universitas, dilanjutkan dengan pembacaan naskah pengukuhan oleh Sekretaris Senat Universitas. Pembacaan tersebut menjadi dasar formal pengesahan jabatan profesor kepada dua akademisi yang telah mendedikasikan puluhan tahun kiprahnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Guru Besar pertama yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Sutikno, SE., ME., dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Dalam orasi ilmiahnya berjudul “Analisis Kritis dan Rekonstruksi Ilmu Ekonomi Terapan Menuju Ekonomi Inklusif dan Keberlanjutan”, beliau menyajikan refleksi mendalam mengenai urgensi rekonstruksi paradigma ekonomi modern.

Prof. Sutikno menegaskan bahwa ekonomi terapan harus melampaui orientasi pertumbuhan semata dan bergerak menuju visi pembangunan yang berkeadilan, berkelanjutan, serta berakar pada nilai kemanusiaan. Beliau menunjukkan bagaimana berbagai paradigma ekonomi, dari klasik hingga kelembagaan, masih menyisakan paradoks pertumbuhan meningkat, namun ketimpangan, kemiskinan struktural, dan kerusakan lingkungan terus berlangsung.

Melalui gagasan ekonominya, Prof. Sutikno menekankan perlunya pendekatan ekonomi inklusif, ekonomi ekologis, serta integrasi nilai etika dan spiritualitas sebagai fondasi kebijakan publik. Beliau juga memperkenalkan tiga model pembangunan hasil risetnya yakni IARD-Model, MELATI, dan BAROKAH, yang menawarkan kerangka konkret pembangunan wilayah berbasis inklusi sosial, keberlanjutan lingkungan, serta nilai keadilan.

Pengukuhan kedua diberikan kepada Prof. Dr. Kukuh Winarso, S.Si., M.T., akademisi Fakultas Teknik. Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Statistik dan Manajemen Data: Prediksi dengan Regresi Data Panel dan Machine Learning”, beliau memaparkan pergeseran besar dunia analisis data di era digital.

Prof. Kukuh menguraikan bahwa pengambilan keputusan modern ditopang oleh kemampuan mengolah data yang kompleks, masif, dan berkecepatan tinggi. Integrasi model regresi data panel dengan algoritma machine learning menjadi salah satu pendekatan mutakhir yang mampu meningkatkan presisi prediksi berbagai fenomena sosial, ekonomi, maupun industri.

Beliau mencontohkan bagaimana kombinasi pendekatan statistik klasik dan teknologi kecerdasan buatan dapat menghasilkan model prediktif yang kuat, sekaligus memberikan dasar yang akuntabel bagi penyusunan kebijakan berbasis data. Dalam pandangan Prof. Kukuh, penguasaan data bukan lagi sekadar keahlian teknis, melainkan fondasi daya saing nasional di tengah transformasi digital dan ekonomi berbasis inovasi.

Rektor Universitas Trunojoyo Madura, Prof. Dr. Safi’, S.H., M.H., secara resmi mengalungkan gordon sebagai simbol pengukuhan guru besar.

Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi ilmiah kedua profesor. Ia menegaskan bahwa pengukuhan ini bukan hanya prestasi personal, melainkan bagian dari perjalanan institusional UTM untuk memperkuat kapasitas akademik menuju kampus yang Unggul, Tangguh, dan Mandiri.

Rektor UTM, Prof. Dr. Safi’, S.H., M.H., menegaskan bahwa pengukuhan dua Guru Besar masing-masing sebagai Guru Besar ke-28 dan ke-29 di Universitas Trunojoyo Madura, menjadi momentum penting untuk memperkuat kontribusi kampus dalam pengembangan ilmu pengetahuan. “Bertepatan dengan Hari Guru Nasional 2025, pengukuhan dua Guru Besar baru ini kami harapkan membawa peningkatan nyata bagi kemanfaatan UTM. Pengukuhan ini juga menjadi pemantik semangat bagi gelombang berikutnya: gelombang kedua dengan tiga Guru Besar yang siap dikukuhkan, serta gelombang ketiga dengan tujuh calon Guru Besar yang kini masih dalam proses penilaian oleh asesor,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa capaian ini sejalan dengan peran strategis perguruan tinggi dalam mendukung Asta Cita Presiden menuju Indonesia Emas 2045, di mana seluruh instrumen negara diharapkan bergerak terpadu untuk pembangunan nasional.

Pengukuhan dua Guru Besar ini menambah deretan profesor aktif di Universitas Trunojoyo Madura dan memperkuat kontribusi universitas dalam pengembangan ilmu ekonomi terapan, statistik, big data, dan machine learning—disiplin-disiplin yang sangat strategis dalam mendukung kebijakan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Dengan dikukuhkannya Prof. Dr. Sutikno dan Prof. Dr. Kukuh Winarso, UTM menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi yang terus tumbuh, berinovasi, dan berkontribusi bagi ilmu pengetahuan serta pembangunan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *