UTM Official

Seputar UTM

Seminar Nasional dan Launching Prodi Teknologi Pangan, Menjawab Asta Cita Keempat Presiden Tentang Ketahanan Pangan di Indonesia

Bangkalan, 13 November 2025 — Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi negeri yang aktif mendukung program prioritas nasional melalui peluncuran Program Studi Teknologi Pangan. Kegiatan ini dirangkai dengan Seminar Nasional bertema “Teknologi Pangan Menuju Generasi Cerdas dengan Food Wisdom dan Food Intelligence”, yang digelar di Aula Syaikhona Muhammad Kholil, Gedung Graha Utama Lantai 10 Universitas Trunojoyo Madura.
Peluncuran ini menjadi jawaban nyata sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah pusat maupun daerah, dan masyarakat dalam menjawab tantangan pangan masa depan sekaligus mendukung implementasi Asta Cita keempat Presiden yang menitikberatkan pada penguatan sistem pertahanan dan keamanan nasional sekaligus mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, serta pengembangan ekonomi kreatif, hijau, dan biru. Dalam bidang pangan, agenda ini diarahkan untuk mewujudkan kemandirian nasional melalui produksi pangan yang cukup, berkelanjutan, dan stabil.
Acara dihadiri oleh Rektor UTM Prof. Dr. Safi’, S.H., M.H., Bupati Bangkalan Lukman Hakim, S.IP., M.H., jajaran rektorat dan dekan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), kepala SMA/MA se-Kabupaten Bangkalan, mahasiswa Fakultas Pertanian, serta civitas akademika lintas disiplin ilmu.
Dalam sambutannya, Bupati Bangkalan Lukman Hakim menegaskan bahwa keberadaan Program Studi Teknologi Pangan UTM menjadi langkah penting dalam mendukung kebijakan nasional di sektor pangan. Menurutnya, teknologi pangan merupakan kebutuhan strategis bangsa karena pangan adalah kebutuhan pokok dan kunci ketahanan nasional. “Tema seminar ini selaras dengan arah pembangunan nasional dan dunia. Potensi Bangkalan sebagai gerbang distribusi pangan ke wilayah timur Indonesia harus dikembangkan dengan pendekatan teknologi dan inovasi,” ujarnya.
Bupati menambahkan, masyarakat selama ini masih melihat pertanian sebagai aktivitas budaya, padahal kini harus berorientasi ekonomi. Dengan kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi seperti UTM, proses pascapanen bisa dikelola lebih efisien, hasil pertanian bernilai tambah, dan kesejahteraan petani meningkat. “Kami berharap UTM terus menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam mengembangkan inovasi pertanian berbasis teknologi pangan yang dapat menjawab tantangan swasembada pangan nasional. Ini adalah bagian dari kontribusi nyata Madura untuk Indonesia,” tambahnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Trunojoyo Madura, Prof. Safi’, menegaskan bahwa pendirian Program Studi Teknologi Pangan merupakan wujud komitmen universitas dalam mendukung agenda prioritas Presiden. Ia menyebutkan, UTM kini memiliki 34 program studi aktif dan menargetkan 20 program baru hingga 2026, termasuk Teknologi Pangan sebagai prodi baru yang berperan dalam membangun kemandirian pangan berbasis inovasi dan kearifan lokal. “Universitas Trunojoyo Madura ingin melahirkan generasi tangguh dan mandiri dalam pengelolaan pangan yang berkeadilan dan berkelanjutan. Melalui prodi ini, kita membangun food wisdom, kebijaksanaan terhadap sumber daya lokal, dan food intelligence, kecerdasan dalam mengelola pangan modern. Sinergi antara kebijakan pemerintah dan perguruan tinggi adalah kunci keberhasilan pembangunan pangan yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Penayangan video profil Prodi Teknologi Pangan, serta pemukulan gong simbolis sebagai peresmian launching prodi Teknologi Pangan oleh Rektor, Wakil Rektor, Bupati, dan Dekan Fakultas Pertanian ini menjadi tonggak penting kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam memperkuat sistem pangan nasional.
Acara turut menghadirkan Dr. Ir. Tigor Pangaribuan, Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional (BGN), secara daring sebagai keynote speaker dengan topik “Arah Kebijakan BGN di Masa Mendatang Berkaitan dengan Keamanan Pangan dan Ekonomi Program Makan Bergizi Gratis (MBG)”. Dalam paparannya, Deputi Tigor menjelaskan bahwa BGN berperan sebagai tulang punggung penciptaan Generasi Emas 2045 melalui tata kelola pangan nasional yang efisien, transparan, dan inklusif.
Ia menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu prioritas strategis pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Melalui ekosistem yang disebut Sirkulasi Ekonomi Desa (Circular Economy Village), BGN membangun jejaring produksi dan distribusi pangan berbasis komunitas dengan melibatkan petani, nelayan, koperasi, dan pelaku UMKM pangan di seluruh Indonesia. “Program MBG bukan sekadar memberi makan bergizi, tetapi membangun sistem ekonomi pangan nasional. Setiap satuan pelaksana program gizi (SPPG) mampu membuka lapangan kerja bagi warga lokal, membutuhkan ratusan ton bahan pangan, dan melibatkan petani, peternak, serta pelaku usaha kecil di sekitarnya. Ini adalah bentuk kolaborasi konkret antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam memperkuat kemandirian pangan bangsa,” jelasnya.
Deputi Tigor juga menyebut bahwa kehadiran prodi Teknologi Pangan UTM menjadi langkah visioner karena menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mendukung tata kelola pangan nasional, terutama dalam program besar seperti MBG. “Dengan inovasi dan riset dari perguruan tinggi seperti UTM, bangsa ini akan memiliki tenaga ahli yang dapat memperkuat sistem pangan dari hulu ke hilir, menjamin gizi masyarakat, serta menjaga stabilitas ekonomi daerah,” ujarnya.
Sesi diskusi panel kemudian memperdalam topik kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri pangan. Prof. Ir. Umi Purwandari, M.App.Sc., Ph.D., Guru Besar Fakultas Pertanian UTM, menyoroti pentingnya pendidikan berbasis food intelligence dan food wisdom untuk membentuk generasi sadar pangan. Dr. M. Fuad Fauzul Mu’tamar, S.TP., M.Si., Dekan Fakultas Pertanian UTM Periode 2021-2025, mengulas tentang rantai pasok agroindustri dalam mendukung program MBG, menegaskan pentingnya efisiensi logistik dan penggunaan teknologi digital seperti Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), dan Blockchain guna mengurangi food loss yang saat ini mencapai 30 persen per tahun. Ia menjelaskan, rantai pasok agroindustri yang tangguh akan memastikan ketersediaan pangan berkelanjutan, menjaga kualitas gizi, dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Prof. Annis Catur Adi, Guru Besar Universitas Airlangga dan pengurus PERGIZI Pangan Indonesia, menekankan pentingnya investasi gizi sebagai pilar pembangunan manusia. Menurutnya, pendidikan tinggi dan riset pangan harus menjadi bagian dari kebijakan negara agar ketahanan pangan dan gizi menjadi gerakan nasional.
Dengan hadirnya Program Studi Teknologi Pangan, Universitas Trunojoyo Madura menegaskan diri sebagai kampus unggul, tangguh, dan mandiri yang menjadi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional, pemberdayaan ekonomi lokal, dan kesejahteraan masyarakat Indonesia yang berkelanjutan. Dari Madura, UTM mengirimkan pesan kuat: ketahanan pangan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi hasil nyata dari sinergi ilmu pengetahuan, kebijakan, dan aksi nyata di lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *