UTM Kukuhkan Dua Guru Besar dan Satu Adjunct Professor Internasional, Perkuat Arah World Class University Berbasis Riset Berdampak
Bangkalan, 30 Desember 2025 — Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menutup tahun 2025 dengan tonggak penting penguatan akademik melalui pengukuhan dua Guru Besar dan satu Adjunct Professor dari perguruan tinggi luar negeri. UTM menggelar Rapat Terbuka Senat dalam Rangka Pengukuhan Guru Besar di Gedung Pertemuan RP Moh. Noer pada Selasa, 30 Desember 2025. Agenda akademik ini menjadi penegasan komitmen UTM dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia, riset berdampak, serta jejaring internasional menuju universitas berkelas dunia yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Dua guru besar yang dikukuhkan masing-masing adalah Prof. Wahyu Andy Nugraha, S.T., M.Sc., Ph.D., Guru Besar Bidang Kepakaran Ekologi Laut dari Fakultas Pertanian, serta Prof. Wahyudi Agustiono, S.Kom., M.Sc., Ph.D., Guru Besar Bidang Kepakaran Sistem Informasi Agribisnis dari Fakultas Teknik. Selain itu, UTM juga mengukuhkan Prof. Caroline Chan sebagai Adjunct Professor Bidang Sistem Informasi, menjadikannya Adjunct Professor internasional pertama dalam sejarah Universitas Trunojoyo Madura.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Wahyu Andy Nugraha menekankan pentingnya pendekatan ekologi terpadu dalam pengelolaan kawasan pesisir dan pariwisata bahari. Ia menjelaskan bahwa terumbu karang dan mangrove tidak dapat dipisahkan sebagai satu kesatuan sistem ekologis yang saling menopang, baik dari sisi keanekaragaman hayati, perlindungan pesisir, hingga keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir. Menurutnya, pariwisata bahari yang dikembangkan tanpa basis ekologi justru berisiko merusak sumber daya alam jangka panjang. “Integrasi ekologi terumbu karang dan mangrove harus menjadi fondasi dalam pengelolaan pariwisata bahari berkelanjutan. Ketika ekosistem dijaga, maka manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan akan berjalan seimbang dan berkelanjutan,” ujar Prof. Wahyu Andy Nugraha dalam paparan ilmiahnya.
Prof. Wahyudi Agustiono mengulas transformasi sektor pertanian melalui pendekatan pertanian cerdas (smart agriculture) sebagai pilar ketahanan pangan sekaligus perlindungan lingkungan di tengah tantangan perubahan iklim. Ia menekankan bahwa pertanian modern tidak lagi dapat bergantung pada cara konvensional, melainkan harus didukung sistem informasi, kecerdasan buatan, pemantauan berbasis data, serta kolaborasi lintas disiplin. “Pertanian adalah bagian penting dari peradaban bangsa. Smart agriculture bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan untuk memastikan ketahanan pangan, meningkatkan efisiensi, dan meminimalkan dampak lingkungan di era perubahan iklim,” tegas Prof. Wahyudi Agustiono. Ia juga menyoroti berbagai inovasi riset yang telah dikembangkan, mulai dari sistem pemantauan tanaman berbasis AI hingga model pertanian presisi yang berdampak langsung bagi petani.
Penguatan dimensi internasional dalam pengukuhan ini tercermin melalui kehadiran Prof. Caroline Chan sebagai Adjunct Professor. Dalam paparannya, Prof. Caroline menekankan pentingnya membangun hubungan berkelanjutan antara perguruan tinggi dan masyarakat melalui desain kemitraan yang kuat, khususnya dalam bidang sistem informasi, mentoring akademik, dan kolaborasi lintas institusi. “Hubungan antara universitas dan masyarakat tidak boleh bersifat transaksional. Ia harus dirancang secara berkelanjutan melalui mentorship, sistem informasi yang inklusif, dan kemitraan yang saling memberdayakan,” ungkap Prof. Caroline Chan. Ia menilai bahwa kolaborasi internasional yang sehat akan mempercepat transfer pengetahuan dan memperkuat dampak sosial riset perguruan tinggi.
Rektor Universitas Trunojoyo Madura, Prof. Dr. Safi’, S.H., M.H., dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengukuhan ini menjadi “hadiah akademik” UTM di penghujung tahun 2025. Ia menyebutkan bahwa hingga saat ini UTM memiliki 624 dosen, dengan 31 di antaranya telah menyandang jabatan guru besar, atau sekitar lima persen dari total dosen. “Angka ini masih perlu kita tingkatkan. Idealnya, sebuah universitas yang ingin masuk kategori world class memiliki minimal 10 persen guru besar. Karena itu, kami mendorong percepatan pengajuan guru besar melalui pendampingan yang lebih intensif dan komunikasi yang kuat, termasuk dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi,” ujar Prof. Safi’.
Ia juga menegaskan bahwa kehadiran Prof. Caroline Chan sebagai Adjunct Professor internasional merupakan langkah strategis UTM dalam memperkuat jejaring global. “Ini pertama kalinya UTM memiliki Adjunct Professor dari perguruan tinggi luar negeri. Ke depan, saya berharap setiap fakultas dapat mengikuti jejak Fakultas Teknik dengan menghadirkan setidaknya satu guru besar dari luar negeri untuk memperkuat riset dan pengabdian kepada masyarakat,” tambahnya.
Lebih lanjut, Rektor UTM menekankan bahwa status guru besar harus berbanding lurus dengan peningkatan kinerja, produktivitas riset, dan capaian prestasi institusi. Sejak 2022, jumlah guru besar UTM meningkat signifikan dari tujuh menjadi lebih dari tiga puluh, sebuah lompatan akademik yang harus terus dijaga konsistensinya.
Melalui pengukuhan dua guru besar dan satu adjunct professor ini, Universitas Trunojoyo Madura menegaskan arah pengembangan institusi yang bertumpu pada keunggulan akademik, riset multidisipliner, dan kolaborasi global. Agenda ini tidak hanya memperkuat reputasi UTM di tingkat nasional, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam mewujudkan universitas berdaya saing internasional yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan dan kemajuan bangsa.
