UTM Siapkan Lulusan Unggul dan Adaptif di Era Transformasi Ketenagakerjaan Nasional melalui MoU dan Kuliah Tamu dengan Kementerian Ketenagakerjaan RI
Bangkalan, 4 Desember 2025 — Universitas Trunojoyo Madura menjalin kerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang dirangkai dengan kuliah tamu bertema “Menyiapkan SDM Unggul dan Adaptif di Era Transformasi Ketenagakerjaan Nasional”. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Pertemuan R.P. Mohammad Noer, Universitas Trunojoyo Madura, sebagai bagian dari komitmen UTM dalam memperkuat keterhubungan pendidikan tinggi dengan dunia ketenagakerjaan. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan RI, Prof. Dr. Cris Kuntadi, SE, MM, CA, CPA, QIA, PIA, FCMA, CGMA, CIPSAS, CFRA, ASEAN CPA, CHRM, CH, CHT, dan dihadiri oleh Calon Wisudawan Periode ke-40 Universitas Trunojoyo Madura.
Rektor Universitas Trunojoyo Madura, Prof. Dr. Safi’, S.H., M.H., dalam sambutannya menyampaikan bahwa UTM terus bertransformasi menjadi perguruan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat. Saat ini, UTM telah memiliki lebih dari 4.500 mahasiswa, dengan 14 program studi terakreditasi unggul dari sebelumnya hanya tiga program studi, serta pengembangan jenjang pendidikan dari diploma hingga doktoral sebagai bagian dari penguatan kapasitas kelembagaan. Menurutnya, pembekalan dari Kementerian Ketenagakerjaan menjadi jawaban konkret atas kebingungan wisudawan setelah lulus. “UTM adalah kampus dengan semangat Unggul, Tangguh, Mandiri. Untuk mewujudkannya dibutuhkan kerja keras, kekompakan, dan keikhlasan seluruh civitas akademika. Kami ingin memastikan bahwa lulusan UTM bukan menjadi penambah angka pengangguran, tetapi menjadi solusi yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” tegasnya.
Lebih lanjut, Rektor menjelaskan bahwa sejak 2025 UTM telah memiliki Unit Pelaksana Akademik Pengembangan Karier dan Kewirausahaan (UPA PKK) yang berfokus pada pembinaan karakter, peningkatan kompetensi, dan kesiapan kerja mahasiswa. Pada Oktober 2025, UTM juga resmi memperoleh lisensi Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) P1, yang memungkinkan universitas memberikan sertifikasi kompetensi langsung kepada mahasiswa. Saat ini, UTM tengah mengajukan 29 skema sertifikasi baru guna memperluas cakupan kompetensi lintas bidang keilmuan.
Rektor menegaskan bahwa pembekalan dari Kementerian Ketenagakerjaan menjadi jawaban konkret atas kebingungan yang selama ini dirasakan sebagian wisudawan setelah lulus. “Wisudawan sering berada di antara rasa bahagia dan bingung menghadapi masa depan. Melalui kuliah tamu ini, mereka memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang pilihan dan arah yang bisa ditempuh, apakah bekerja, melanjutkan studi, atau menciptakan lapangan pekerjaan sendiri,” ungkapnya. Menurutnya, sinergi dengan Kementerian Ketenagakerjaan melalui penandatanganan MoU ini menjadi instrumen strategis untuk mempercepat terwujudnya UTM sebagai Kampus Berdampak yang melahirkan lulusan unggul, mandiri, dan berdaya saing di dunia kerja maupun kewirausahaan.
Penandatanganan MoU dengan Kementerian Ketenagakerjaan RI semakin memperkuat posisi UTM sebagai kampus yang adaptif terhadap tuntutan zaman. Melalui kerja sama ini, mahasiswa dan lulusan UTM akan memperoleh akses terhadap berbagai fasilitas dan program Kemnaker, termasuk pemanfaatan Balai Latihan Kerja (BLK) di seluruh Indonesia, program pelatihan berbasis kebutuhan industri, peningkatan kompetensi, serta fasilitasi sertifikasi profesi.
Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan RI, Prof. Dr. Cris Kuntadi, S.E., M.M., dalam kuliah tamunya menyampaikan apresiasi terhadap langkah progresif Universitas Trunojoyo Madura dalam menyiapkan mahasiswanya menghadapi dunia kerja. Ia menegaskan bahwa transformasi ketenagakerjaan menuntut inovasi, adaptasi, serta pemanfaatan teknologi secara optimal oleh perguruan tinggi. “Saya ingin menjawab keresahan perguruan tinggi tentang kebingungan wisudawan yang baru lulus terkait arah dunia kerja. Hari ini, sertifikat bukan satu-satunya penentu. Yang jauh lebih penting adalah keterampilan yang benar-benar dibutuhkan oleh dunia kerja dan dunia usaha. Di sinilah peran kampus menjadi sangat strategis dalam membimbing, mengasah, dan mengarahkan mahasiswanya agar siap menghadapi perubahan,” ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan ke depan menuntut penguatan link and match antara dunia pendidikan dan industri melalui optimalisasi Balai Latihan Kerja (BLK) dan platform digital yang telah disiapkan pemerintah. Kemnaker menghadirkan ekosistem siap kerja yang dapat diakses mahasiswa dan lulusan, di antaranya magang.hub untuk program pemagangan nasional, karir.hub sebagai pusat informasi lowongan kerja, skill.hub bagi lulusan yang ingin meningkatkan kompetensi, serta serti.hub yang terintegrasi dengan sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Seluruh layanan ini, termasuk pelatihan bagi penyandang disabilitas, dirancang untuk menjembatani kebutuhan dunia pendidikan dengan dunia kerja secara inklusif dan berkelanjutan.
Melalui sinergi ini, UTM optimistis mampu mencetak lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja baru melalui semangat kewirausahaan. Kerja sama dengan Kemnaker menjadi instrumen strategis dalam mewujudkan visi Kampus Berdampak yang menghadirkan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
