UTM Official

Seputar UTM

SEKOLAH VERTICAL RESCUE TINGKAT 1 “CHALLENGE THE HEIGHT STRENGTHEN THE BONE” UTM SIAPKAN GENERASI PENYELAMAT TANGGUH DAN MANDIRI

Bangkalan, 10 Oktober 2025 Di tengah meningkatnya tantangan kebencanaan dan kebutuhan akan sumber daya manusia tangguh, Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan potensi mahasiswa melalui kegiatan Sekolah Vertical Rescue Tingkat 1. Mengusung tema “Challenge the Height, Strengthen the Bone”, kegiatan ini menjadi simbol sinergi antara ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan ketangguhan karakter.

Dalam rangka kegiatan Sekolah Vertical Rescue Tingkat 1 dilakukannya upacara Pembukaan yang dihadiri oleh Taufani Sagita (Pembina), Subhan Fajar Sidik (Dewan Perintis), Abraham Firmansyah (Dewan Pembina Dan Penasehat dan Pertimbangan Organisasi (DP2O)) atau yang mewakili Yudhi Lesmana, Damanhuri (Perwakilan Alumni MPA. GHUBATRAS), dan Perwakilan Organisasi kemahasiswaan KM-UTM.

Kegiatan Sekolah Vertical Rescue Tingkat 1 diselenggarakan dengan dukungan dari berbagai pihak, baik instansi pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, maupun komunitas pecinta alam, yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana di Indonesia. Kegiatan ini menghadirkan para profesional dan pegiat kemanusiaan dari berbagai daerah di tanah air, sehingga menjadi wadah penting untuk berbagi pengetahuan, keterampilan teknis, serta pengalaman lapangan. Empat narasumber utama yaitu Teddy Ixdiana, Data Pela, Adrian Daely, dan Kamia Rahayu berperan sebagai motor penggerak utama sekaligus instruktur yang memberikan materi secara komprehensif, baik teori maupun praktik. Mereka membagikan wawasan mendalam mengenai teknik penyelamatan di medan vertikal, manajemen risiko di lapangan, serta pentingnya kerja sama tim dalam setiap operasi penyelamatan.

Melalui pendekatan pelatihan yang sistematis dan aplikatif, para peserta dibekali pengetahuan serta keterampilan teknis dalam penyelamatan di medan vertikal. Namun, lebih dari sekadar teknik, pelatihan ini juga menanamkan nilai – nilai kemanusiaan, kedisiplinan, dan solidaritas sebuah kombinasi penting untuk mencetak responder profesional yang siap turun di berbagai situasi darurat.

“Pelatihan ini bukan hanya tentang kekuatan fisik, tapi tentang mentalitas dan kepedulian sosial. Kami ingin menumbuhkan kesadaran bahwa setiap tindakan penyelamatan adalah wujud cinta terhadap sesama,” ujar salah satu narasumber, Data Pella, dalam sesi pembukaan.

Pradata Guntur, yang akrab disapa Data Pela, asal Malang, merupakan salah satu tenaga ahli di Vertical Rescue Indonesia (VRI). Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa Vertical Rescue Indonesia merupakan lembaga non-profit yang dipimpin oleh Kang Teddy Ixdiana.

Menurut Data Pella, kegiatan yang dilakukan oleh Vertical Rescue Indonesia berawal dari upaya memperkenalkan olahraga panjat tebing melalui berbagai program, salah satunya yakni “Seribu Jalur Panjat Tebing Indonesia”. Seiring berjalannya waktu, organisasi ini berkembang menjadi lembaga yang berfokus pada kegiatan kemanusiaan, mengingat sifatnya yang tidak berorientasi pada laba atau rugi.

Selain itu, Kang Teddy juga menggagas berbagai inisiatif sosial lainnya, salah satunya melalui pembangunan jembatan gantung di berbagai daerah. Tak hanya itu, Vertical Rescue Indonesia juga memiliki program Sekolah Vertical Rescue, yang bertujuan untuk memasyarakatkan kegiatan penyelamatan vertikal sekaligus memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk terlibat dan berkontribusi dalam operasi kemanusiaan. Lebih lanjut, terdapat pula Sekolah Panjat Tebing Merah Putih, yang memiliki kegiatan serupa dengan Sekolah Vertical Rescue, yakni menumbuhkan semangat nasionalisme melalui kontribusi di bidang kepedulian dan kemanusiaan.

Dalam kesempatan tersebut, Data Pela juga menyampaikan apresiasinya kepada Mahasiswa Pecinta Alam MPA. GHUBATRAS dari Madura, yang sukses melaksanakan kegiatan Sekolah Vertical Rescue. Ia menuturkan bahwa tiga tahun sebelumnya, sudah ada rencana untuk mengikuti kegiatan serupa di Madura, namun terkendala oleh berbagai faktor. Oleh karena itu, kehadirannya dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh MPA. GHUBATRAS kali ini menjadi sebuah kehormatan tersendiri.

Sebanyak 60 peserta dari berbagai perguruan tinggi, instansi, dan lembaga kemanusiaan se-Indonesia ambil bagian dalam kegiatan ini, Mereka tidak hanya datang untuk belajar teknik penyelamatan, tetapi juga memperkuat jejaring kemanusiaan lintas institusi. Beragam latar belakang, seperti Mapala, Sispala, BPBD, hingga komunitas lainnya dari luar Pulau Jawa Timur turut hadir sebagai peserta aktif dalam kegiatan tersebut.

Salah satu peserta kegiatan Sekolah Vertical Rescue Tingkat 1, Almuhlisin, yang berasal dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang, turut berbagi pengalaman dan kesannya selama mengikuti kegiatan tersebut. Almuhlisin merupakan anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) atau tim evakuasi yang sehari-hari bertugas dalam penanganan darurat kebencanaan di wilayah Sampang. Ia menjelaskan bahwa tujuan mengikuti kegiatan Sekolah Vertical Rescue ini adalah untuk meningkatkan kompetensi dan memperoleh pengetahuan baru yang dapat menunjang tugasnya di BPBD. “Tujuan saya mengikuti kegiatan ini tentu untuk mendapatkan ilmu baru yang berguna bagi pekerjaan di BPBD Sampang,” ujarnya.

Selama pelatihan berlangsung, Almuhlisin mengaku mendapatkan banyak manfaat, baik dari sisi keterampilan teknis maupun jaringan pertemanan. “Saya mendapatkan banyak ilmu baru dan teman baru, baik dari para instruktur maupun dari sesama peserta,” tuturnya. Lebih lanjut, ia menyampaikan harapannya agar kegiatan Sekolah Vertical Rescue dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. “Harapan saya, kegiatan seperti ini dapat terus diadakan minimal setiap tahun. Semakin banyak teman-teman yang memahami teknik vertical rescue, tentu akan semakin baik bagi pelaksanaan kegiatan penyelamatan di medan ketinggian dan lainnya,” pungkasnya.

Dua orang anggota Kepolisian Perairan dan Udara (Polairud) POLDA Jawa Tengah yakni, Aiptu Dedi Rahmat dan Aiptu Sulung Juni Cahyanto. “Adapun tujuan mengikuti kegiatan sekolah vertical rescue ini adalah untuk mendukung Tim SAR Polairud POLDA Jawa Tengah dalam operasi operasi SAR pada wilayah POLDA Jawa Tengah,” ujar salah satu peserta, Aiptu Sulung Juni Cahyanto. Baginya, kegiatan Sekolah Vertikal Rescue Tingkat 1 ini merupakan suatu hal yang baru dan menyenangkan, karena bertemu dengan peserta lain yang berasal dari berbagai daerah.

Universitas Trunojoyo Madura memandang pelatihan seperti ini sebagai bagian integral dari pendidikan holistik. Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan Universitas Trunojoyo Madura Surokim, S.Sos, SH, M,Si menegaskan bahwa dunia pendidikan tinggi tidak boleh berhenti pada teori, tetapi harus memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah keterampilan nyata. Dalam konteks ini, Sekolah Vertical Rescue Tingkat 1 menjadi wadah pembelajaran yang mempertemukan teori akademik dengan praktik lapangan. Mahasiswa dilatih untuk tidak hanya berpikir logis dan ilmiah, tetapi juga cepat mengambil keputusan dalam situasi kritis.

Kegiatan ini juga menjadi ajang pembentukan soft skills seperti kepemimpinan, komunikasi efektif, dan kemampuan bekerja dalam tim kompetensi yang kini menjadi tuntutan utama dalam dunia profesional dan kemanusiaan. Kolaborasi Lintas Profesi, Wujud Sinergi untuk Kemanusiaan

Salah satu kekuatan utama kegiatan ini terletak pada kolaborasinya. Para peserta tidak hanya berasal dari dunia kampus, tetapi juga dari berbagai Perwakilan Mahasiswa Perguruan Tinggi, lembaga sosial, instansi pemerintahan, hingga komunitas relawan independen.

Sinergi lintas profesi ini membuktikan bahwa penyelamatan bukanlah tanggung jawab satu pihak saja, melainkan panggilan bersama. Di sinilah Sekolah Vertical Rescue Tingkat 1 berperan sebagai wadah persaudaraan dan kerja sama lintas batas.

“Solidaritas itu lahir saat kita bersama-sama menghadapi medan yang menantang. Di tali yang sama, di dinding yang sama, semua peserta belajar bahwa keselamatan adalah hasil dari kepercayaan dan kolaborasi,” tutur Data Pela, instruktur senior yang telah berpengalaman dalam berbagai misi kemanusiaan. Dalam konteks perguruan tinggi, kegiatan seperti ini menjadi bagian dari strategi UTM dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul, tangguh, dan mandiri. Dunia yang semakin dinamis menuntut generasi muda untuk memiliki daya tahan fisik dan mental, serta kemampuan berpikir kritis dan empatik.

Program Sekolah Vertical Rescue Tingkat 1 adalah salah satu bentuk nyata dari pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Mahasiswa diajak memahami pentingnya peran mereka dalam mitigasi bencana, penanganan darurat, hingga pengabdian masyarakat. Namun Di sisi lain, kegiatan ini juga membuka peluang penelitian dan pengembangan di bidang keselamatan, teknik peralatan vertikal, hingga manajemen risiko bencana. Dengan demikian, UTM tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga pusat inovasi dan aksi kemanusiaan.

Filosofi “Challenge The Height, Strengthen The Bone” menggambarkan semangat yang sejalan dengan nilai-nilai UTM: keberanian menghadapi tantangan dan kemampuan untuk cepat beradaptasi. Setiap peserta tidak hanya belajar tentang teknik tali-temali, rappelling, dan evakuasi korban, tetapi juga belajar tentang makna kesabaran, strategi menghadapi tekanan, dan pentingnya saling percaya dalam team works.

“Yang paling berharga dari pelatihan ini bukan sekadar ilmu teknis, tetapi bagaimana kita ditempa menjadi pribadi yang lebih kuat dan peduli,” ucap Adrian Daely, salah satu instruktur yang dikenal dengan pendekatan inspiratifnya.

Pelaksanaan Sekolah Vertical Rescue Tingkat 1 menjadi bukti konkret komitmen Universitas Trunojoyo Madura dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek Quality Education (Pendidikan Berkualitas), Good Health and Well-being (Kesehatan dan Kesejahteraan), serta Partnerships for the Goals (Kemitraan untuk Tujuan Bersama).

Taufan Sagita (Pembina) MPA. GHUBATRAS, menyampaikan kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi nyata antara dunia akademik dan praktisi kemanusiaan. “Kami berterima kasih kepada seluruh pihak yang berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Kolaborasi Serta Dukungan sponsor dan mitra menjadi bukti konkret semangat kebersamaan dalam mengimplementasikan kampus berdampak,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan, pelatihan ini adalah ruang penting untuk menempa mental dan karakter mahasiswa agar tangguh menghadapi berbagai tantangan global. “Selamat berlatih, selamat berbakti, dan teruslah menjadi cahaya bagi kemanusiaan,” pesannya menutup sambutan.

Vertical Rescue Indonesia (VRI) lahir dari semangat kemanusiaan dan kepedulian terhadap keselamatan di medan ekstrem dan organisasi Mahasiswa Pencinta Alam MPA. GHUBATRAS Universitas Trunojoyo Madura menjadi napas penggerak perjuangan kegiatan pencinta alam yang tak hanya berfokus pada kegiatan alam bebas dan konservasi, tetapi juga pengabdian kemanusiaan sejak tahun 1989.

“Melalui pelatihan ini, kami ingin mengajarkan bahwa ketangguhan bukan datang dari kekuatan fisik semata, tapi dari kemampuan beradaptasi dan bekerja sama,” jelas Roki Saputra, salah satu instruktur yang juga relawan aktif dalam berbagai operasi kemanusiaan di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *